Kamis, 26 Maret 2009

PEMAIN KAMPUNG (4)

Pertandingan dilanjutkan kembali, kali ini berjalan lebih keras dari sebelumnya. Bakos ngamuknya makin menjadi-jadi. Begitu pula pemain KAPUWAS, “Jihad fi sabiilillah” kata mereka.
Pelanggaran-pelanggaran keras sangat sering terjadi, boleh dibilang tiap menit. Wasit hampir kehabisan nafas meniup peluitnya terus menerus. Malah kadang-kadang peluit tersebut tidak bisa bunyi karena sudah kepenuhan oleh air liur wasit.
Suatu ketika wasit meniup peluitnya keras-keras karena melihat suatu pelanggaran dilakukan oleh salah seorang pemain KAMBER. Namun pemain itu terus saja menggiring bola walau peluit telah ditiup berkali-kali. Tak terkira kesalnya hati wasit, terdengar gemeletuk giginya dari jarak beberapa meter. Sambil mengepal-ngepalkan tangannya si wasit mengejar pemain tersebut. Tapi setelah dekat, wasit jadi tertegun tatkala matanya tertuju pada seonggok kapas yang menutupi lubang telinga si pemain bandel itu. Wasit menarik nafas panjang. Segera ia mengurungkan niatnya untuk ‘mensadakahkan’ tinjunya ke muka pemain tersebut.
“Anda sebagai wasit harus ngerti dong, kuping saya lagi flu” ketus pemain itu. Wasit hanya bisa manggut-manggut.
Bola kembali bergulir, kali ini dikuasai oleh salah seorang pemain KAPUWAS yang mengutak atik bola sendirian tanpa mau mengover pada temannya. Rupanya pemain ini ingin memamerkan kepintarannya menggoreng bola. Beberapa pemain Kesebelasan KAMBER berhasil dilewatinya dengan mudah.
“Nih, rebut kalau bisa” katanya dengan nada sombong sambil melewati salah seorang pemain yang berusaha merebut bola dari kakinya.
Tapi entah bagaimana pasalnya, tiba-tiba saja pemain sombong itu tersungkur seketika tatkala berusaha melewati Mohdan, salah seorang pemain KAMBER yang konon jago silat. Wasit tidak melihat dengan jelas penyebab jatuhnya pemain sombong tadi sehingga ia tidak meniup peluitnya. Dan saat itu iapun membiarkan saja Mohdan menggiring bola dengan cepatnya menuju gawang KAPUWAS. Pemain belakang KAPUWAS kelabakan, sesaat lagi Mohdan masuk kotak penalti. Mau tak mau, salah seorang dari mereka, yakni si pemain bayaran memberanikan diri menggaet kaki Mohdan yang sedang berlari kencang.
Akibatnya Mohdan jatuh tersungkur dengan kerasnya sampai terguling-guling. Gedebbbukk…..byurrrrr. Begitu suara yang terdengar. Tapi anehnya, Mohdan yang terjatuh tadi tidak terlihat di tengah lapangan. “Lho, kok menghilang” tanya penonton sambil mata mereka mencari-cari di mana Mohdan.
Selidik punya selidik, ternyata Mohdan nyungsep masuk ke kubangan kerbau. Menurut perkiraan mbah dukun, Mohdan harus dipanggilkan ambulance. Namun dugaan mbah dukun ternyata meleset karena tiba-tiba saja Mohdan bangkit, langsung pasang kuda-kuda ngeluarin silatnya. Pemain bayaran yang menggaet kaki Mohdan tadi ternganga, detik itu juga sebuah pukulan maut dengan telak mengenai rahangnya. Akibatnya, pemain yang malang itu roboh tak bangkit-bangkit lagi sampai hitungan ke sepuluh dari wasit.
Si Pemain bayaran dinyatakan kalah KO dan pemenangnya Mohdan langsung mendapat hadian ‘kartu merah’, dikeluarkan dari lapangan. Mohdan protes keras, wasit dikatakannya berat sebelah. Kartu merah itupun direbut dari tangan wasit lalu dirobek. Wasit tak mau kalah. Segera ia keluarkan lagi “kartu merah” lainnya yang ternyata adalah bungkus rokok gudang garam yang sudah rada-rada ceper di kantong celananya. Mohdan masih tetap tidak terima. Hampir saja pipi montok sang wasit dihantamnya. Untunglah pada saat yang genting itu Gafan datang melerai, kalau tidak ....sudah dapat dibayangkan, panitia pertandingan akan rugi besar karena harus menanggung biaya pengobatan wasit di rumah sakit.
Setelah Gafan turun tangan, Mohdan mau juga keluar dari lapangan pertandingan. Demi menghormati sang kapten, katanya. Namun sebelum keluar dari lapangan, sempat juga ia mengeluarkan ancaman-ancaman sadis untuk wasit sehingga membuat lutut beserta bulu-bulu kaki wasit gemeteran. Nampak Mohdan keluar lapangan dengan sekujur tubuh belepotan penuh lumpur hitam pekat. Dari belakang badannya lebih mirip zombi. Bahkan seorang anak kecil bilang, Mohdan mirip godzilla yang ditontonnya di VCD. Sesampainya di luar lapangan tak seorang pun yang mau mendekatinya. Malah wak dukun menyuruhnya segera menjauh karena menurutnya magicnya akan sial bila berdekatan dengan orang penuh lumpur tahi kerbau. Sungguh malang nasibnya.
Pertandingan dilanjutkan kembali, pemain kedua kesebelasan kali ini sudah sama-sama lupa diri, tepatnya lupa daratan ingat lautan. Sudah tidak mengindahkan aturan-aturan yang ditetapkan FIFA. Mereka bermain ala kampung, bola sudah meninggalkan lapangan, namun adu betis masih tetap berlangsung. Tentu dalam hal ini Bakos-lah yang paling banyak berperan.
Suatu ketika Bakos dengan sedikit agak keras mengganjal salah seorang pemain KAPUWAS sampai jungkir balik hingga menyebabkan muka pemain itu harus mampir sejenak di tumpukan tahi kerbau setengah kering yang menghiasi lapangan. Wasit meniup peluitnya sambil berlari ke arah Bakos yang sedang tertawa melihat hasil karyanya. Tawa Bakos terhenti seketika karena wasit memberinya kartu merah dan langsung mengusirnya keluar lapangan dengan tidak hormat.
Bakos protes keras, “Saya mengganjelnya ndak terlalu keras pak! Tadi yang nomor 19 ngganjelnya keras, kok cuma dikasih kartu kuning ? Ndak adil dong, pokoknya saya ndak terima” ketus Bakos.
“Iya pak, ndak bisa dong sembarangan kasi orang kartu merah” Gafan ikut menimpali, takut kehilangan jagonya. Begitu pula pemain-pemain KAMBER lainnya ramai-ramai ikut protes sambil mendorong-dorong tubuh wasit hingga hampir nyungsep ke semak-semak di pinggir lapangan.
“Sabar, sabar dik. Masalahnya, kartu kuning saya tadi jatuh di mana ya ?” jawab wasit agak gugup sambil mencari-cari kartu kuning tersebut ke seluruh penjuru lapangan, namun tak ketemu.
“Pokoknya pak, kartu merah untuk saya harus dibatalkan!!” kata Bakos keras sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya ke hidung wasit.
“Bbbaiklah....tapi kamu mesti dapat kartu peringatan, soalnya kamu sudah keterlaluan.”
“Ho...ho..., ndak apa-apa yang penting ndak di kasih kartu merah.”
Wasit termenung sejenak, gimana ya pikirnya. Kartu yang warna kuning hilang.
“Hmh...bagaimana kalau yang ini saja ?” kata wasit sambil membuka dompetnya lalu mengambil sebuah kartu berwarna kuning (kartu berobat).
Bakos meneliti kartu tersebut. Tampak di situ foto wasit lengkap dengan nama istri dan anak-anaknya. Setelah dibolak-balik sebentar akhirnya Bakos mengangguk-angguk setuju. Maka resmilah Bakos mendapat kartu kuning saat itu juga.
Sumpah serapahpun dihadiahkan oleh para pendukung Kes. KAPUWAS untuk wasit yang batal memberikan kartu merah buat Bakos. Sabaaaar, kata wasit.
Bola kembali bergulir. Pemain KAPUWAS tiba-tiba melakukan serangan kilat, sehingga menimbulkan kemelut di depan gawang Ihsan. Hampir seluruh pemain kedua kesebelasan bergumul di situ. Suara kaki beradu cukup ramai. Kelihatan dengan jelas kaki Bakos di tendang beramai-ramai oleh pemain KAPUWAS. Rupanya mereka ingin membalas dendam atas cederanya beberapa teman mereka. Namun demikian Bakos tidak nampak kesakitan sedikitpun, malah ia berusaha membalas dengna sekuat tenaga.
Sorak sorai penonton membuat Bakos makin bersemangat mengamuk. Semua kaki yang ada di depannya di tebas, tak peduli kaki teman atau lawan (pokoknya yang ada di depan). Namun tiba-tiba saja Bakos yang lagi ngamuk itu jatuh terkapar mengaduh-aduh di depan gawang Ihsan. Semua pemain terkejut, tidak menyangka kalau Bakos bisa kesakitan. Selidik punya selidik ternyata Bakos menendang tiang gawang Ihsan. Entah disengaja atau tidak, yang jelas pemain ini kalau lagi ngamuk, nendang kaki orang tidak pandang bulu. Dan kebetulan tiang gawang dari pohon pinang yang ditendangnya itu juga kelihatan berbulu.
“Tuhan menunjukkan keadilanNya” guman salah seorang pemain KAPUWAS yang kelihatan sangat bersuka cita atas musibah yang menimpa Bakos. Tiada lagi yang perlu ditakuti sekarang ini pikirnya sembari sujud syukur dua kali yang diikuti oleh teman-temannya dan puluhan penonton pendukung fanatiknya.
Sementara itu Bakos menggeliat-geliat kesakitan bagai cacing kepanasan. Pemain yang lain hanya bisa melongo melihat jago mereka terkapar. Tak ada yang berniat menggotongnya keluar sehingga cukup lama pertandingan jadi terhenti.
Tiba-tiba dua orang penonton tak dikenal masuk ke lapangan. Kelihatannya kedua orang yang berbadan kekar dan bertato tersebut lagi geregetan.
“Hey pemain loreng busuk !! Kamu pura-pura cedera ya ?!! Sengaja saja buang-buang waktu, bisa-bisa saya kalah taruhan nih !” bentaknya garang seraya keduanya memegang kaki Bakos dan menyeretnya seperti bangkai ke luar lapangan, lalu dengan seenaknya Bakos dicampakkan begitu saja di depan seorang anak kecil yang lagi kencing. Bakos berteriak-teriak menyumpahi orang tersebut yang sudah beranjak meninggalkannya.
Begitu melihat jagonya tak berdaya, manajer Ali langsung memanggil mbah dukun yang sebentar lagi masa kontraknya akan habis.
“Duk...(dukun), kamu mesti sembuhin kami punya jago, kalau tidak, saya potong uang kontrakmu.”
“Oho..tenang saja” jawab mbah dukun sambil memijit-mijit tulang kering Bakos keras-keras. Bakos menjerit-jerit kesakitan seraya menyumpahi mbah dukun yang dikatakannya tak tahu etika pengobatan.
Kelihatan mbah dukun komat-kamit, entah apa yang diucapkannya, tak seorangpun tahu, puh..puh..pruh...cuih... koeeeeek... cuh...plak...., wak dukun menyemprot-nyemprotkan liurnya ke kaki Bakos. Permen karet yang sejak tadi dikulumnya juga ikut nyemprot, membuat para pemain KAPUWAS tak dapat menahan tawa melihat aksi itu.
“Itu sih dukun beranak,” teriak mereka.
Namun mbah dukun tetap tenang, dan ajaib sekali, Bakos tiba-tiba berhenti mengerang. Dan kini malah kelihatan bersiap-siap bangkit untuk main lagi. Pemain KAPUWAS yang tadinya gembira kini nampak ciut melihat Bakos bugar kembali dan bersiap melakukan aksi pembalasan. Padahal mereka berkeyakinan bahwa Bakos tak bakalan bisa nendang bola untuk beberapa musim kompetisi. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Begitu melihat Bakos bangkit, Ali langsung memeluknya penuh kegembiraan, “harapan kami ada di pundakmu.....eh...di betismu” kata Ali.
“Cepetan dikit monyoong.......supaya cepet selesai” teriak wasit, “saya mo cepet pergi kondangan nih!!” lanjutnya.
“Cepetan loreng busuk...!!” dua orang misterius tadi ikut menimpali.
Bakos berlari menuju ke tengah lapangan, langsung mengamuk. Semua pemain yang menggiring bola dikejar lalu disikat bolanya beserta kakinya sekalian, sehingga banyak pemain KAPUWAS yang berloncatan seperti kutu loncat saat hendak beradu kaki dengan Bakos. Sedangkan Bakos sendiri terus saja mengamuk membabi buta....eh...membakos buta. Tendangannya pun jadi ngawur. Bila ia berlari ke arah selatan, lalu salah seorang mengover bola kepadanya, maka bola itu langsung ditendangnya keras-keras ke selatan, tak peduli itu daerah sendiri. Pendeknya Bakos menendang bola ke arah mana badannya menghadap saat itu (ciri khasnya)
Ini sebenarnya yang dikhawatirkan Gafan. Cepat-cepat hendak disadarkannya Bakos. Dan ketika Gafan berlari mendekati Bakos hendak menasehatinya, hampir saja betisnya hendak dibabat oleh Bakos, karena dikira pemain KAPUWAS. Kontan saja sang kapten loncat berjumpalitan ke samping.
Gafan makin bingung melihat ulah Bakos. Segera saja ia berlari mendekati menejer Alie di pinggir lapangan. Gafan minta supaya Bakos diganti saja karena nampaknya akan membawa malapetaka bagi tim mereka. Alie pun menyetujuinya. Ia segera membawa pemain cadangannya menuju ke panitia pertandingan. Setelah melapor, terdengarlah suara dari loud speaker sang reporter.
“Pergantian pemain ! Pemain Kamber, Bakos, nomor punggung 5 digantikan oleh Juned nomor punggung 7. Kepada saudara Bakos silahkan enyah dari lapangan”
Mendengar dirinya akan diganti, Bakos kontan protes. Ia menolak untuk diganti. Malah reporter tersebut dilemparinya dengan tanah keras. Wasit yang coba menyuruhnya keluar, langsung diancam oleh Bakos dengan mengacungkan tinju. Pokoknya Bakos tetap tidak mau keluar, padahal pemain penggantinya sudah masuk ke lapangan. Si Juned terlihat menarik-narik tangan Bakos untuk menyuruhnya keluar. Tapi Bakos tetap bertahan, malah beberapa kali tangan Juned diplintirnya dan ditendang pantatnya. Walhasil kacaulah di lapangan tersebut. Para pemain dan suporter KAMBER memerintahkan Bakos untuk keluar sambil nyumpah-nyumpah. Tapi yang anehnya justru kini pemain musuhnya yakni pemain KAPUWAS mendadak berbalik membela Bakos. Mereka menahan Bakos dan menolak Bakos untuk diganti (Lho, kok bisa). Malah mereka beramai-ramai mendatangi panitia pertandingan untuk menolak pergantian Bakos. Bakos sendiri jadi bingung. Ini yang aneh. Padahal para pemain KAPUWAS adalah musuhnya. Dan tadinya mereka begitu membenci Bakos, malah meminta supaya Bakos dikeluarkan. Tapi sekarang, justru mereka yang meminta Bakos untuk tidak diganti.
“Meski kami adalah musuhmu, tapi kami prihatin dengan penggantiannmu. Kami menolak keras kalau kamu diganti !” ujar kapten Kapuwas sambil menepuk bahu Bakos.
Rupanya para pemain Kapuwas sudah tahu, bahwa apabila Bakos sudah ngamuk, maka pastilah ia bakal bikin goal bunuh diri. Ini sudah jadi rahasia umum. Itu sebabnya pemain KAPUWAS bela-belain menolak penggantian Bakos. Sementara Bakos sendiri saat itu juga menolak untuk diganti. Setiap orang yang berusaha menariknya keluar, langsung saja ditendang tulang keringnya, termasuk menejer Alie. Akhirnya usaha Bakos benar-benar membuahkan hasil, ia tidak jadi diganti. Tak terkira dongkol hati Juned karena ia harus keluar lapangan lagi padahal tadinya ia sudah pemanasan dengan susah payah. Beberapa kali ia menyumpah-nyumpahi Bakos dengan kata-kata kotor. Sementara Gafan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah Bakos itu.
Pertandingan pun kembali dilanjutkan.
Suatu ketika tatkala Gafan cs melakukan serangan kilat, Bakos sempat menendang bola dengan sangat keras ke gawang musuh. Bola melesat dengan cepat dan tajam. Namun demikian bola terpental karena ditepis sang kiper dan kembali keluar kotak penalti. Bola masuk ke kubangan. Nampak terlihat di pinggir gawang dua sejoli seram mengacung-acungkan tangan terkepal ke arah Bakos. Rupanya mereka mulai marah karena Bakos menendang bola keras-keras.
“Awas kalau sampai kena rumah saya lagi, mampus kamu !!” ancam suami si bibi seraya memelintir kumis melintangnya tiga kali.
Para pemain KAMBER mulai ciut. Namun Bakos tetap tenang. Diambilnya bola dari dalam kubangan kerbau itu, kemudian diletakkan di atas, tepat setengah meter di luar garis. Bakos ambil ancang-ancang untuk nendang bola dengan keras. Namun sebelum menendang didekatinya bola tersebut dan diambilnya lagi. Rupanya Bakos sedang mencelupkan bola tersebut pada sisa tahi kerbau yang masih basah. Bola pun kelihatan belepotan oleh tahi kerbau.
Melihat hal itu, beberapa pemain KAPUWAS yang sudah membentuk pagar betis di depan bola, kelihatan akan protes. Tapi belum sempat mereka protes, mendadak secepat kilat Bakos menendang bola penuh tahi kerbau itu dengan sangat keras.
Dan tentu saja, barisan pagar betis yang sudah rapi itu pada bersibak berlarian, takut terkena tahi kerbau. Termasuk kiper KAPUWAS sendiri terlihat tiarap menyelamatkan diri. Detik itu juga bola melesat dengan kecepatan tinggi. Namun karena Bakos nendang dalam posisi agak miring, maka bola pun melesat agak miring. Ya, miring ke samping gawang dan dengan telak melesat mengenai muka suami si bibi.
Mendapat hantaman bola keras itu, suami si bibi jatuh terjengkang. Kumis si suami yang telah diplintir tiga kali itupun jadi kacau balau. Bahkan tahi kerbau nampak nempel di kumis dan seluruh mukanya. Si bibi nangis histeris. Beberapa penonton di kiri kanannya terlihat menghitung-hitung seperti juri tinju. Namun karena sampai hitungan kesepuluh si suami ini tidak bangkit, maka para penonton pun menggotongnya pulang. Sementara itu si bibi karena sibuk ngurus suaminya, ia jadi tidak sempat mengejar-ngejar Bakos. Ia terlihat histeris menyebut-nyebut nama Tuhan.
“Sudah !! Jangan dihiraukan. Waktunya tinggal dua menit” ujar wasit. “Ayo cepet !! Saya ada kundangan rowah nih” ulangnya.
Pertandingan pun kemudian dilanjutkan lagi. Langsung terjadi serangan kilat ke daerah pertahanan KAMBER. Dan pada detik-detik terakhir terjadilah suatu kemelut di depan gawang Ihsan. Semua pemain bergumul di situ saling berebut bola. Bakospun tidak ketinggalan Berjibakutai, dan kebetulan saat itu ia menghadap ke gawangnya sendiri. Begitu datang bola ke arahnya, langsung saja ditandangnya keras-keras hingga Ihsan yang berusaha menangkap bola tersebut, jadi terpental masuk ke dalam gawang bersama bola.
Gooooooll........teriak pemain KAPUWAS histeris seraya bersama-sama memeluk dan mengusung tinggi-tinggi Bakos yang tadi dibencinya. Sementara itu Ihsan menyumpah-nyumpahi Bakos tak karuan, begitu pula Ali, mbah dukun dan penonton lainnya. Bakos benar-benar jadi bulan-bulanan sumpah serapah. Semua isi satwa yang ada di kebun binatang disebut-sebut untuk menyumpahi Bakos. Sementara Bakos sendiri hanya ternganga mendengar sumpah serapah yang dibingkiskan khusus untuknya.
Akhirnya saat itu juga peluit panjang berbunyi, pertandingan usai dengan kedudukan 2 - 1 untuk kekalahan kesebelasan KAMBER. Manajer Ali hanya bisa bertolak pinggang melihat kenyataan tersebut.
“Bangkrut nih, manajer”, gerutunya sambil berlalu dari tempat itu tanpa menghiraukan mbah dukun yang ngomel karena uang kontraknya dibayar kurang. “Bangkrut nih menejer” ujarnya sekali lagi.
Beberapa pembotoh yang kalah taruhan terlihat bergiliran menjotos kepala Bakos. “Gara-gara kamu, Brengsek” umpatnya. “Dasar loreng busuk” kata yang lain. “Loreng lu....” sambut mbah dukun yang ikutan menjotos kepala Bakos dan mengancam akan menyihir Bakos menjadi kodok.
Bakos hanya ternganga. Tiba-tiba……”tunnng”, kepalanya kembali dijitak. Kali ini dengan alu sebesar lengan. Rupanya si bibi telah kembali lagi untuk membalaskan dendam suaminya.

PERTANDINGANPUN USAI, PENONTON BUBAR SEIRING DENGAN TERDENGARNYA AZAN MAGRIB

Setiba di kampung, Gafan cs kembali dielu-elukan dengan tertawaan dan siraman air comberan oleh Abah Halil sekeluarga. Malah malam itu Abah Halil langsung mengadakan syukuran besar-besaran sebagai ungkapan rasa syukur atas kekalahan yang diderita Gafan cs. Siaaall.
Read More......

PEMAIN KAMPUNG (3)

Usai acara minum-minum, Ali kembali memanggil semua pemainnya untuk diberikan penjelasan seperlunya. Para pemainnya sendiri tidak ada yang memperhatikan. Para pemain KAMBER ada yang berdiri, ada yang tiduran di rumput sambil siul-siul, ada yang hadap ke timur, utara, barat, ada yang minta dipijitin, ada yang sambil ngerokok dan ada pula yang sambil godain cewek-cewek.

Usai acara minum-minum, Ali kembali memanggil semua pemainnya untuk diberikan penjelasan seperlunya. Para pemainnya sendiri tidak ada yang memperhatikan. Para pemain KAMBER ada yang berdiri, ada yang tiduran di rumput sambil siul-siul, ada yang hadap ke timur, utara, barat, ada yang minta dipijitin, ada yang sambil ngerokok dan ada pula yang sambil godain cewek-cewek. Tapi Ali terus saja nyerocos. Kali ini yang dijelaskan adalah asal usul sepak bola dan nama-nama kesebelasan yang pernah menjuarai Piala Dunia, mulai dari piala dunia pertama hingga seterusnya, lengkap bersama nama-nama para pemainnya yang terkena kartu merah.
Wah, gawat nih menejer, pikir Gafan sembari ngeloyor menuju ke tengah lapangan meninggalkan sang menejer yang makin tidak karuan. Dan akhirnya pidato sang menejer pun terhenti seketika karena kaget oleh suara peluit wasit yang ditiup keras-keras tepat di dekat telinganya. Pemain kedua kesebelasan diminta bersiap-siap untuk babak kedua.
Pemain kedua kesebelasan pun masuk ke lapangan dengan berlari. Tapi mendadak terjadi insiden di lapangan. Pemain kedua kesebelasan saling dorong, bahkan hampir saling banting.
“Hey setan…ada apa nih…..!” tanya si wasit.
“Ini sit (wasit).…pemain KAMBER ndak mau pindah tempat” ketus kapten KAPUWAS. “Masak dari babak pertama di sebelah timur terus” gumannya.
Wasit jadi melongo. Segera ia memerintahkan pemain KAMBER pindah tempat, namun tak digubris. Wasit melotot, dibalas juga dengan pelototan. Akhirnya si wasit terpaksa memanggil Gafan sang kapten.
“Perintahkan anak buahmu pindah tempat ! Segera !” bentak wasit.
Mau tak mau akhirnya Gafan membujuk para pemainnya untuk pindah tempat. Sedianya para pemain KAMBER akan tetap bertahan di tempat semula. Tempat itu dirasa menguntungkan karena ada kubangannya dan dua sejoli ‘seram’ di samping gawang mereka.
Namun karena perintah sang kapten yang disertai ancaman panitia untuk me-WO-kan KAMBER, maka para pemain KAMBER akhirnya mengalah.
Sementara di pinggir lapangan Manajer Alie juga tak bisa berbuat banyak. Aksi tidak mau pindah tempat itu adalah ide-nya. Namun, nyaris saja ide brilliant-nya itu bikin timnya di WO.
“Jangan khawatir, tembak jarak jauh saja, supaya bola ndak masuk kubangan” pesan Menejer Alie kepada para pemainnya.

Dan priiiiiiiiiiiiiiiiiiit.............
Wasit kembali meniup peluitnya keras-keras, pertandingan babak keduapun dimulai. Kali ini kedua kesebelasan tak banyak basa basi, langsung saja menyuguhkan permainan keras mereka, saling beradu kaki. Acara ini merupakan acara wajib yang tak boleh ditinggalkan begitu saja setiap ada pertandingan antar kampung (tradisi warisan katanya). Sehingga bagaimanapun kerasnya suara kaki beradu, si wasit tetap tidak menilainya sebagai suatu pelanggaran.
Pertandingan makin lama makin seru, Kes. KAMBER kelihatan mulai terkurung dengan rapat, pemain-pemain belakangnya nampak kalang kabut (meskipun saat itu cuaca tidak berkabut), sorak sana sorak sini penuh kekacauan. Dan pada pertengahan babak kedua, terciptalah gol pertama bagi kesebelasan KAPUWAS. Para pendukung fanatik mereka bersorak-sorak gembira sambil menyanyikan lagu “Sorak-sorak Gembira”. Bermacam-macam ulah mereka dalam melampiaskan kegembiraannya. Ada yang jingkrak-jingkrak seperti jangkrik, ada yang jungkir balik sampai pinggangnya benar-benar ndak bisa balik. Dan ada juga yang menggoyang-goyang panggung studio mini tempat sang reporter hingga nyaris ambruk.
Demikian pula dengan pemain-pemainnya, tak kalah histerisnya. Mereka pada buka baju dan melempar baju-bajunya ke udara. Walhasil, beberapa di antara baju-baju tersebut tidak jatuh-jatuh ke tanah. Setelah dilihat ke atas, ternyata baju-baju tersebut nyangkut di dahan pohon kelapa yang menjorok ke dalam lapangan. Mereka kelabakan. Akhirnya, offisialnya terpaksa meminjam beberapa kaos warna kuning milik penonton yang kebetulan baru pulang kampanye.
Sementara itu pemain-pemain Kes. KAMBER hanya bisa menganga melihat gawang mereka kebobolan. Sedangkan Ichsan yang bertugas sebagai penjaga gawang harus bersabar mendengar sumpah serapah penonton yang kali itu kalah taruhan. Tampak di dekat tiang gawang, Sang menejer Ali sedang ngomelin wak dukun yang dikatakannya bekerja kurang becus.
Pertandingan kembali dilanjutkan. Gafan mulai mengatur kembali anak buahnya agar tetap disiplin menjaga daerah ‘kekuasaannya’ masing-masing. Secara perlahan-lahan tapi pasti, mereka membangun serangan, walaupun lebih sering gagal dan tetap dalam keadaan terkurung. Berulang-ulang kali mereka menyerang tapi selalu kandas. Dan seperti biasa kandasnya selalu di kubangan kerbau itu. Tak jarang Gafan jadi menggerutu. Sementara kapten KAPUWAS justru cengar-cengir gembira. “Rasain….!” ejeknya.
Namun demikian hal itu tak membuat Gafan cs putus asa. Terus saja mereka menyerang. Tapi tentunya mereka tidak berani nendang bola keras-keras karena dua sejoli ‘seram’ masih berdiri di pinggir gawang musuh.
“Kalian kurang makan ya ? Koq tendangannya loyo ?!” ujar Pemain KAPUWAS mengejek Gafan cs.
Pemain KAMBER diam saja. Terus saja mereka mencari taktik menyerang. Tidak bisa dengan taktik yang satu, taktik yang lain dikeluarkan. Pokoknya beraneka macam taktik maupun tiktak sudah dikeluarkan, tapi belum juga pemain Kamber bisa menyamakan kedudukan.
Tiba-tiba, tak ada hujan tak ada badai, para pemain KAPUWAS pada berhamburan keluar seperti hendak menyerbu musuh. Bukan itu saja, para pendukung mereka pun pada berhamburan menyerbu. Mereka pada lari berhamburan menuju ke papan skor yang ada di pinggir lapangan. Papan skor tersebut diobrak-abrik dengan ganasnya. Apa pasal ?
Ternyata para pemain dan pendukung KAPUWAS jadi murka lantaran mereka melihat skor yang tercantum di papan itu telah berubah. Yang semula kedudukan 1 – 0 untuk kemenangan mereka, tiba-tiba berubah jadi 1 – 5 untuk kemenangan kesebelasan KAMBER. Padahal tak satupun goal yang pernah diciptakan oleh kesebelasan KAMBER. Hal itulah yang membuat mereka marah. Dan yang melakukan kejahilan tersebut tidak lain adalah Alie, sang menejer. Rupanya Alie melakukan hal tersebut karena kebetulan saat itu Ijah, gadis yang ditaksirnya, datang ke lapangan. Nah, Alie nampaknya merasa malu tim asuhannya sedang kalah. Maka dari itu ia langsung mengendap-endap di antara kerumunan penonton menuju ke papan skor. Dan tanpa ba bi bu, skor 0 – 1 dirubahnya menjadi 1 –5. Inilah yang memicu keributan. Para pemain dan suporter KAPUWAS kesana kemari mencari Alie, namun rupanya Alie sudah keburu minta perlindungan kepada sejumlah Hansip yang berjaga di situ sehingga selamatlah ia.
Akhirnya pertandingan pun dilanjutkan kembali. Bola mulai bergulir ke sana kemari.
Suatu ketika terjadilah out ball di sisi kanan pertahanan KAPUWAS. Bola dilempar ke dalam keras-keras oleh salah seorang pemain KAMBER hingga ke depan gawang musuh. Dari lemparan ini kemudian terjadi kemelut yang hebat. Semua berusaha nyundul bola. Bola melejit ke atas, disundul lagi. Belum sempat ke tanah, disundul lagi. Begitu berulang-ulang, sundul menyundul. Bahkan kiper KAPUWAS pun begitu akan dapat bola, bola tersebut tidak jadi ditangkap, melainkan disundul hingga nyaris masuk ke gawang sendiri. Akibatnya ia disumpah-serapah oleh teman-temannya. Pokoknya kemelut di depan gawang itu sungguh seru. Berbagai cara dilakukan kedua tim untuk memperebutkan bola, termasuk dengan cara saling sikut dan saling cakar.
Dan akhirnya berkat usaha yang gigih, para pemain KAMBER berhasil memenangkan kemelut hebat itu. Sebuah gol balasan bagi kesebelasan KAMBER tercipta secara kebetulan yang dicetak oleh Gafan melalui sundulan kepala. Kali ini giliran pendukung dan pemain KAMBER yang bersorak sorai, mereka berebutan memeluk Gafan. Padahal Gafan sendiri saat itu sedang meringis kesakitan memegang kepalanya yang beradu keras dengan bola.
Sementara itu Kesebelasan KAPUWAS kelabakan. Mereka tidak nyangka kalau kesebelasan KAMBER yang sudah terkurung dengan ketat mampu mecetak gol balasan secepat itu. Mereka juga menganggap gol itu penuh kecurangan karena saat kemelut tadi para pemain KAMBER main sikut.
Kapten KAPUWAS segera protes wasit prihal sikut menyikut itu. Beberapa pemain yang mukanya biru kena sikut dibawanya sebagai barang bukti. Begitu pula kipernya ikut dihadirkan dengan menunjukkan moncong hidungnya yang kena cakar.
“Tuh lihat, pemain saya pada lebam. Kiper saya juga kena cakar” ujarnya. “Mereka itu pemain bola apa kucing. Kok pakai nyakar segala. Pokoknya gol ini tidak syah” lanjutnya ketus.
Namun demikian wasit tidak mengindahkan protes para pemain KAPUWAS itu. Ia tetap menganggap gol itu sah. Kedudukan pun jadi satu sama.
Para pemain KAPUWAS jadi kecewa. Mereka terlihat saling menyalahkan, umpat mengumpat, bahkan ada yang saling caci maki. Mereka nyaris tidak bisa menerima kenyataan yang dianggapnya pahit itu. Malu rasanya gawang mereka dibobolkan oleh kesebelasan yang menurut mereka di luar hitungan.
Pertandingan dilanjutkan kembali, pemain-pemain KAPUWAS kelihatan mulai mengamuk, terutama yang bernomor punggung 20, si item gosong yang tadi diuber-uber oleh perempuan pemilik rumah. Terlihat sekali si item tersebut emosi, semua kaki musuh ditebasnya. Beberapa pemain KAMBER mulai kelihatan ciut, tak terkecuali sang Kapten yang tampaknya masih sayang sama betis mulusnya.
Begitu melihat gelagat kurang baik itu, Menejer Ali langsung memanggil pemain cadangannya, yakni Bakos yang lagi asyik belajar ngegelembungin permen karet bersama wak dukun.
“Bakos ! Kamu siap-siap menggantikan si Odi. Pemain musuh sudah mulai ngamuk.”
Tak terkira gembira hati Bakos, “Saat ini akan kutunjukkan baktiku pada kampung halaman” gumannya perlahan. Cepat-cepat dia mengenakan kostumnya yang bernomor punggung 5 sementara celananya bernomor 12. Penonton menertawakannya. Tapi Bakos cuek saja.
“Tapi ingat Kos, kamu mesti bisa bikin mampus si item yang nomor 20 itu, ini target minimal” bisik manajer Ali seraya menepuk pundak Bakos.
Setelah melapor pada panitia pertandingan, maka pergantian pemainpun dilakukan.
“Pergantian pemain ! Pemain yang diganti harap keluar, dan pemain yang mengganti kami persilahkan memasuki tempat yang telah disediakan !!” kembali terdengar suara Reporter gadungan melalui pengeras suara yang langsung disambut oleh penonton dengan lemparan batu bata ke arahnya. Malah beberapa pemuda mulai kembali menggoyang-goyangkan panggung studio mininya. Akibatnya, panggung tersebut ambruk seketika hingga menimpa beberapa pemain cadangan dan offisial KAPUWAS yang sedang asyik ngerayu gadis-gadis di dekatnya. Sedangkan si Reporter gadungan itu sendiri melarikan diri entah kemana.
Sementara itu Bakos terlihat berlari masuk lapangan diiringi tepuk tangan meriah penonton yang memberi semangat kepadanya. Cihuyyy.....pemain masa depan, sorak mereka.
Kini giliran pemain KAPUWAS yang ciut nyalinya melihat keangkeran betis Bakos. Baru saja bola bergulir, tiba-tiba, “Praaaaak”. Seorang pemain KAPUWAS terjatuh menggelepar-gelepar sambil memegangi kakinya yang baru saja beradu dengan kaki Bakos. Pemain tersebut mengerang kesakitan. Namun demikian wasit masih menganggapnya sebagai pelanggaran biasa, padahal mau tak mau pemain itu harus digotong keluar lapangan.
“Itu baru setengah kekuatanku, hasilnya, bisa kamu lihat sendiri, dia ndak bakalan bisa maen bola lagi seumur hidup...eh...maksudku seumur jagung” bisik Bakos pada Gafan.
Dan memang, pemain yang digotong tadi dinyatakan tak mampu lagi melanjutkan pertandingan. Dan sebagai gantinya yaitu salah seorang pemain yang konon menurut desas desus merupakan pemain bayaran. Pemain bayaran ini dari jauh kelihatan “sok” betul. Kedua pergelangan tangannya pakai engkel. Di sikunya ada engkel juga. Di lengan pun demikian. Di paha ada engkel juga. Di lutut kiri-kanan, di betis, tulang kering dan kedua tumit penuh dengan engkel. Hampir seluruh tubuhnya dipenuhi engkel. Hanya mulutnya saja yang tidak diberi engkel. Dan dari awal pertandingan tak henti-hentinya ia pemanasan. Mulai dari lari-lari kenceng, split, push up, sit up, bahkan sampai nendang-nendang tinggi-tinggi segala bak pesilat. Tapi ketika gilirannya akan main, tiba-tiba saja pemain bayaran itu tampak takut memasuki lapangan setelah melihat tragedi yang menimpa temannya tadi.
“Penyakit asma-ku kambuh lagi nih” katanya berbohong sambil memegang perutnya.
“Aahh...alasan saja, cepet sana !!” bentak pelatihnya. Tapi si pemain bayaran masih bandel juga, benar-benar ketakutan tampaknya.
Akhirnya setelah dipaksa dengan agak keras oleh pelatihnya dan didorong-dorong oleh petugas hansip ditambah lagi ancaman dari puluhan penonton, pemain itupun terpaksa masuk lapangan. Sambil masuk lapangan terlihat mulutnya komat-kamit. Rupanya ia sedang membaca doa-doa yang pernah diberikan almarhum engkongnya.
Pertandingan kembali dilanjutkan. Kedua kesebelasan sama-sama mengamuk, saling tebas kaki dengan kerasnya. Tapi belum ada yang berani coba-coba menebas kaki Bakos. Penonton bersorak-sorak gegap gempita membuat pemain kedua kesebelasan tambah bersemangat untuk saling mencederai lawannya. Hingga suatu saat terjadilah sebuah kemelut di depan gawang Ihsan (mbah dukun sibuknya bukan main). Debu-debu mengepul tebal di depan gawang tersebut sehingga wasit tidak bisa melihat dengan jelas pemain-pemain kedua kesebelasan. Hanya suara kaki beradu saja yang terdengar, “prok, prak, prok, ctak, buuggg,.......adddoooowww” teriak salah seorang pemain. Wasit cepat-cepat meniup peluitnya. pertandinganpun terhenti seketika.
Di tengah kepulan debu terlihat dengan samar-samar seorang pemain KAPUWAS yang bernomor punggung 20 terkapar sambil tangan kanannya memegangi tulang keringnya sedang tangan kiri memegangi punggungnya yang katanya kena gebuk. Entah siapa yang melakukannya, yang jelas pasti perbuatan tangan-tangan tak bertanggung jawab. Wasit jadi iba melihatnya. Namun demikian sejenak wasit melongo. Rupanya ia terheran-heran, sebab setahunya pemain No 20 itu tadinya berkulit item, sekarang kok putih semua. Bahkan sampai rambutnya pun putih.
“Lho, kok berubah jadi pemain tionghoa ?” tanya wasit dengan nada tidak jelas, antara guyon dan serius.
“Kok nanya begitu ?” tanya kapten KAPUWAS.
“Lha ini, mukanya putih, padahal tadi item”
“Saudara ngejek ya ? Dia kan kena debu” ketus sang kapten. “Sudahlah, jangan banyak tanya. Cari sana siapa yang gebuk punggungnya !!” lanjut sang kapten.
“Oh ya, Siapa yang memukul punggungnya hah ?! Ayo ngaku !!” bentak wasit garang dengan tatapan nanar ke semua pemain.
Tentu saja tak seorangpun yang mengaku. Tapi tiba-tiba salah seorang penonton di dekat situ berteriak, “ Itu pak....yang betisnya loreng-loreng” teriak penonton tersebut sambil menunjuk ke arah Bakos.
Wasit menatap Bakos yang lagi ternganga, “Hm...sudah saya duga pasti kamu yang punya perbuatan” kata wasit sembari bersiap-siap mengeluarkan kartu merah dan hendak mengusir Bakos dari lapangan.
“Bohong pak, saya ndak pernah, berani sumpah” kata Bakos membela diri menyalami wasit untuk ngajak bersumpah. Mendengar itu, wasit jadi ragu-ragu mengeluarkan Bakos dari lapangan.
Tiba-tiba Gafan menengahi, “Sudahlah pak, tadi itu kan keadaannya tidak memungkinkan untuk melihat mana kawan, mana lawan. Nah siapa tahu dia digebuk kawannya sendiri. Jangan percaya sama penonton dong pak, tapi percayakan saja pada Biogesick......eh....maksud saya percaya pada diri sendiri.”
Wasit manggut-manggut mendengar kata Gafan sehingga mau tak mau ia harus mengurungkan niatnya untuk mengusir Bakos, padahal semua orang tahu kalau itu ‘hasil karya’ Bakos.
“Tapi saya ingatkan kepada semua pemain, hanya kaki saja yang boleh main, tangan tidak boleh” ucap wasit memberi peringatan kepada pemain kedua kesebelasan.”Mengerti semua ?!” lanjutnya. Namun semua pemain tak ada yang menjawab, tampaknya tidak setuju. Wasit jadi kecele.
Sementara itu pemain nomor 20 yang masih tertelungkup belum digotong ke luar lapangan. Tak henti-hentinya ia memohon pada wasit supaya Bakos diusir saja dari lapangan. Wasit belum bereaksi. Malah si wasit kembali mengamat-amati pemain nomor 20 itu dengan agak terheran-heran. Wajah dan rambut pemain tersebut terlihat makin putih terkena debu. Karena tambah berguling-guling. Malah hidung dan mulutnya kini penuh kemasukan debu.
“Saya yakin pak dunia akhirat, dia yang gebuk punggung saya ... uhuk.....uhuk...” kata pemain tersebut di sela isak tangisnya. ”Keluarkan saja pak, kerjanya cuma merusak generasi penerus bangsa ihik....ihik...” lanjutnya sembari menunjuk Bakos yang sedang merapikan bulu-bulu betisnya yang sempat teracak-acak oleh peristiwa tadi.
Tapi wasit tidak menghiraukan sama sekali permohonan pemain tersebut yang akhirnya menangis meraung-raung. Tiba-tiba pelatihnya masuk lapangan. Roman mukanya kelihatan sedih karena ‘jagonya’ dikalahkan ‘jago’ kesebelasan KAMBER.
“Kasihan kamu Jo......” katanya kepada jagonya yang konon mempunyai nama lengkap MaraJOna, tapi dipanggil JO.
“Sudahlah pak, jangan sedih, kan masih ada pemain cadangannya” hibur wasit pada pelatih itu.
“Bagaimana saya tidak sedih pak, kalau dia ndak bisa jalan seperti ini, siapa yang akan carikan nafkah untuk anak istrinya ?” ujar pelatihnya dengan agak ketus.
“Haah...?! Jadi dia sudah punya anak ?!” Kata wasit melotot. “Di sini yang boleh main hanya yang di bawah umur 18 tahun, belom kawin dan orang Indonesia asli, bukan tionghoa…eh..Sorry. kalau begitu pemain ini tidak saya perbolehkan melanjutkan pertandingan, harus diganti !!” bentaknya lagi. “Cepat keluarkan !! Aku tak sudi melihatnya lagi” lanjutnya dengan kata-kata yang agak dramatis.
Dan akhirnya pemain yang malang itupun digotong beramai-ramai keluar lapangan.
Read More......

PEMAIN KAMPUNG (2)

SORENYA..
Usai solat ashar para pemain KAMBER berangkat menuju lapangan yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari kampung mereka. Kepergian mereka diiringi dengan ejekan dan sorak sorai gegap gempita dari Abah Halil dan keluarganya.

SORENYA..
Usai solat ashar para pemain KAMBER berangkat menuju lapangan yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari kampung mereka. Kepergian mereka diiringi dengan ejekan dan sorak sorai gegap gempita dari Abah Halil dan keluarganya. Mereka semua serempak menengadahkan tangan berdo’a agar Gafan cs kalah sebanyak-banyaknya dan cedera sepatah-patahnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, mereka bukannya diiringi dengan taburan dan lemparan bunga maupun kembang, melainkan mereka dilempari dengan kembang.........api, sehingga nyaris membuat kumis ‘ampik’ Bakos yang sudah tertata rapi jadi kebakaran. Namun untung bibi anah cepat-cepat menyiram kumis Bakos dengan air cucian ikan tongkol yang akan dibuangnya ke kebun.
Walaupun begitu berat cobaan dan rintangan yang mereka hadapi, namun mereka tetap tegar. “Jangan ciut kita di jalan yang benar....Allahu akbar”, kata Menejer Ali menghibur sembari terus melangkah tegap dengan membawa bendera kebanggaan Kesebelasan KAMBER yang bergambar orang sedang mancing di atas perahu (maklum kampung nelayan). Dengan bernyanyi Halo-Halo Bandung Ali memimpin para pemainnya berjalan melewati pematang-pematang sawah yang rumputnya telah mulai menguning. Sementara padinya pun sudah menguning pula, hanya saja bukan karena mendekati panen, melainkan karena kurang air akibat kemarau panjang.
Sorak sorai penonton riuh rendah ketika para pemain Kesebelasan KAMBER tiba di lapangan yang sebenarnya belum memenuhi syarat untuk disebut lapangan. Bayangkan saja, yang dijadikan lapangan adalah dua petak sawah kering yang mengalami kegagalan panen. Malah di separuh bagian lapangan itu masih terdapat sisa-sisa padi yang rupanya enggan untuk dipanen si empu sawah. Yang lebih menyakitkan, debu di lapangan tersebut tebalnya minta ampun, hampir setinggi mata kaki. Baru lari sedikit saja, kontan debu tersebut mengepul seperti asap kebakaran. Dan hebatnya lagi, di salah satu sudut lapangan, tepatnya di depan kotak pinalti, terdapat kubangan kerbau masih berlumpur. Dalamnya lumayan, sekitar setengah meter. “Kalau bola masuk ke sana, berarti out !” ujar panitia pertandingan.
“Kesebelasan KAMBER memasuki lapangan”, ucap sang MC melalui pengeras suara, “hadirin yang duduk dipersilahkan berdiri, dan hadirin yang berdiri dipersilahkan duduk !!” lanjutnya.
Kontan saja terdengar teriakan jengkel dari penonton kepada sang MC. Malah beberapa kali terlihat batu bata melayang di atas poskonya yang berbentuk panggung terbuat dari bambu dan dikatakannya sebagai ‘studio mini’. “Penonton harap tenang” ujarnya lagi, “Di sini reporter anda, reporter kenamaan dari salah satu TV swasta akan melaporkan jalannya pertandingan yang..........” baru sampai di situ bualan sang reporter, puluhan batu-bata kembali melayang ke ‘studio mininya’, sehingga iapun mengurungkan niat untuk membual lebih banyak.
Sementara itu setelah istirahat sejenak, Ali memanggil seluruh pemainnya, setelah itu iapun membagi-bagikan es mambo setengah encer yang diambil dari kulkas di rumahnya. Semula tak seorang pemainpun yang mau menerimanya karena mereka sudah tahu kalau es tersebut adalah sisa-sisa es yang tidak laku dijual. Tapi Ali tak kehabisan akal, dikatakannya bahwa es miliknya sudah ‘diisi’ dengan berbagai jampi-jampi agar betis tak kesakitan bila ditendang. Dan akhirnya dengan terpaksa pemain Kesebelasan KAMBER pun memakan es tersebut. Sedangkan Ali sendiri mulai memberikan pengarahan-pengarahan dengan gaya seorang pelatih profesional.
Lagaknya benar-benar over acting. Sesekali langkahnya ke kanan, sesekali kekiri. Kadang mundur, kadang maju menirukan gerak pelatih-pelatih tim piala dunia. Namun tiba- tiba saja langkah kaki Alie tertahan. Selidik punya selidik, ternyata kakinya tertahan karena menginjak tahi kerbau tebal dan hangat yang ada di situ.
“Brengsek !” gerutunya sambil mengusap-usap kakinya di rerumputan.
Usai membersihkan kakinya, Alie kembali menjelaskan berbagai hal kepada para pemainnya. Yang dijelaskan bukannya taktik ataupun strategi, melainkan nama-nama kesebelasan Galatama yang menjadi juara tiap tahun, lengkap bersama nama pemain pencetak golnya. Walhasil pemain-pemain Kes. KAMBER hanya bisa melongo dan................... ......................priiiiiiiiiiiiiiiiiiiitt.
Wasit meniup peluitnya memanggil pemain kedua kesebelasan untuk bersiap-siap. Wasitnya cukup aneh, pakai sarung dan peci. Kata orang ia baru pulang kenduri (begawe) lalu di-stop di tengah jalan dan dipaksa memimpin pertandingan. Tapi sebagian golongan mengatakan bahwa ia wasit utusan FIFA. “Ah persetan....” kata menejer Ali.
“Nah saya ucapkan selamat bertanding, moga-moga ndak kalah terlalu banyak,.....dan ente mbah dukun jangan jauh-jauh dari gawang Ihsan, biar bisa ngontrol” pesan sang menejer kepada mbah dukun dan para pemainnya yang kelihatan sudah ‘shock berat’ dan perut mereka agak mules akibat es basi tadi.
Tepat pukul empat arloji wasit (arloji penonton sudah setengah lima) pertandingan secara resmi dimulai oleh wasit dengan meniup peluitnya sekeras mungkin hingga terlempar dari mulutnya.
Kesebelasan KAPUWAS yang menggunakan kostum kuning-kuning (kaos Golkar yang di-wantex) mendapat kesempatan bola pertama. Bola bergulir dari kaki ke kaki pemainnya, tendang kiri over ke kanan, tendang kanan over ke kiri, begitu seterusnya kurang lebih 20 menit sampai suatu ketika salah seorang pemain KAPUWAS menendang bola dengan kerasnya hingga mengenai peci sang wasit. Peci tersebut terpental seketika. Akibatnya, tiba-tiba saja rambut wasit tergerai, dan Masya Allah…….rambut si wasit ternyata panjang juga. Panjangnya hingga melewati punggung. Rupanya rambut panjang si wasit tadi di-buntel di dalam pecinya.
“You ini wasit apa Rud Gullit. Yang bener dong !! Masak wasit gondrong. Mestinya ‘kan botak” kata seorang pemain Kapuwas. “Sana ! potong rambut dulu” lanjutnya.
“Ss..sorry, tidak bisa. Istri saya lagi hamil” jawab wasit sambil kembali memasang pecinya. “Ayo, main lagi ! Priiitt”
Pertandingan pun kembali dilanjutkan. Bola masih dikuasai oleh para pemain Kapuwas. Mereka nampaknya berbakat benar memainkan bola. Tendangan mereka rata-rata sangat keras. Apalagi kalau hendak menendang ke arah gawang Ichan, wadduh kerasnya minta ampun. Beberapa orang pemain belakang KAMBER sempat kedat-kedut karena hampir saja tendangan keras pemain KAPUWAS mengenai kepala mereka. Beberapa di antara mereka malah memijit-mijit telinganya. Rupanya bola sempat nyerempet telinganya sehingga menyisakan bunyi nguiiiiiing.
Tapi untung saja di daerah pertahanan anak buah Gafan terdapat kubangan kerbau, tepatnya satu meter di luar kotak pinalti. Kubangan ini cukup membantu karena tak jarang bola-bola umpan kilat pemain KAPUWAS tiba-tiba masuk ke kubangan. Hal tersebut terjadi berulang-ulang sehingga para pemain KAPUWAS jadi jengkel. Akhirnya mereka memutuskan untuk menembak dari jarak jauh saja.
Dan benar saja, suatu ketika mereka menembak bola dari jarak jauh dengan keras. Akibatnya bola melambung jauh keluar lapangan menimpa salah satu atap dapur penduduk. Bola tersebut dengan sukses menjebol atap dan membuat berantakan seisi dapur.
“Bangsaaaaat......kurang ajaaaaaarr....!” terdengar sumpah serapah dari dalam dapur. Lalu tampak keluar seorang perempuan dengan muka bengis memegang alu (geneng) menuju ke arah lapangan. Semua mata tertuju padanya. “Siapa yang menendang bola ke arah dapurku ?! Kamu ya ?!” tanyanya galak kepada Ali.
“Bbbbbbbukan bi.....bukan saya, itu tuh yang nendang, yang kaosnya hijau nomer 20, yang mukanya item gosong” jawab Ali gugup sambil siap lari karena ketakutan melihat alu yang hampir saja mendarat di jidat kebanggaannya.
Perempuan itu berpaling ke arah pemain yang ditunjuk Ali. Tatapan matanya tajam. Seketika itu juga ia mengejar pemain bermuka gosong tesebut ke tengah lapangan sambil mengacung-acungkan alu di tangannya. Kejar mengejarpun berlangsung dengan serunya di bawah sorak sorai penonton. Tak terkira takut pemain tersebut. Beberapa kali ia menjerit menyebut nama Tuhan tatkala alu sebesar lengan orang dewasa itu hampir saja singgah di pinggangnya.
Mau tak mau panitia pertandingan turun tangan. Beberapa orang hansip terlihat berusaha melerai dengan mengacung-acungkan pentungnya. Namun si perempuan tadi karena merasa alu yang di bawanya lebih besar dari pentungan pak Hansip, maka hansip itupun dibabatnya. Langsung saja hansip-hansip tersebut pada kabur tak mau ambil resiko. Sementara pemain item gosong yang jadi incaran, terpaksa disembunyikan oleh panitia tak jauh dari situ, yakni di sebuah semak belukar yang merupakan WC umum penduduk setempat.
Keadaan kembali reda setelah si perempuan tiba-tiba balik menuju rumahnya dengan tergesa-gesa tatkala tercium olehnya bau nasi gosong. Pertandinganpun kembali dilanjutkan. Bola kembali bergulir, kali ini dikuasai oleh para pemain KAMBER yang kelihatannya mulai membangun jembatan.....eh.…membangun serangan. Namun serangan-serangan Kesebelasan KAMBER selalu berhasil dipatahkan oleh pemain belakang Kesebelasan KAPUWAS. Lalu gantian kesebelasan KAPUWAS balas menyerang, namun berhasil pula dipatahkan oleh kesebelasan Kamber. Begitu seterusnya saling menyerang silih berganti.
Suatu ketika para pemain KAPUWAS mendadak merubah taktik bermain. Serangan mereka bergelombang dengan berbagai trik. Hampir seluruh pemainnya dikerahkan menyerang. Bahkan kipernya pun ikutan maju menyerang. Mereka menyerang bak air bah sambil bersorak-sorak riuh rendah. Hal ini ternyata berhasil membuat pemain KAMBER kocar-kacir kebingungan. Bahkan ada yang merasa gentar dengan suasana riuh rendah tersebut.
Para pemain KAPUWAS terus saja menyerang. Tendangan mereka ke arah gawang Ichsan sering kelewat keras. Sampai-sampai para penonton yang ada di kiri kanan gawang tersebut pada bersibak menyelamatkan diri karena ketakutan terkena bola melenceng. Namun mendadak beberapa saat setelah itu, tendangan para pemain KAPUWAS jadi lemah lunglai seakan tak bertenaga. Beberapa kali tendangan mereka bisa ditangkap oleh kiper Ichsan dengan sebelah tangan. Itupun si Ichan sambil cengir ngejek. Orang-orang mengira bahwa itu adalah hasil kerja mbah dukun. Tapi ternyata tidak.
Para pemain KAPUWAS ternyata tiba-tiba merasa takut nendang bola keras-keras ke arah gawang Ichsan. Pasalnya, bibi yang tadi ketiban rumahnya oleh bola, kini kembali lagi dan berdiri di pinggir lapangan, persis di dekat gawang Ichsan. Dan tak tanggung-tanggung, ia dikawal oleh suaminya yang berperawakan tinggi besar dan berkumis tebal melintang. Kedua makhluk seram itu tetap berdiri di situ seraya memelototi setiap pemain KAPUWAS yang hendak menendang bola. Akibat hal tersebut, praktis pemain KAPUWAS tak berani nendang bola keras-keras karena takut bola kembali mengenai rumah si bibi. Apalagi sampai melenceng mengenai si bibi dan suaminya yang berdiri di dekat tiang gawang.
Kehadiran si bibi dan suaminya itu tentu saja menguntungkan pemain KAMBER. Melihat hal itu Gafan cs malah menantang pemain KAPUWAS untuk nendang keras-keras.
“Kalian kurang makan ya ? Koq, tendangannya loyo ?” ujar Gafan mengejek pemain KAPUWAS.
Diejek begitu, para pemain KAPUWAS ubah strategi lagi. Mereka memancing para pemain KAMBER untuk adu kekuatan di tengah lapangan.
“Sekarang ndak usah nyetak gol dululah” ujar kapten KAPUWAS. “Ntar…babak kedua, pindah tempat, rasain lu” lanjutnya.
Akhirnya sejak saat itu pemain KAPUWAS hanya berani berkutak-katik di tengah lapangan saja. Sementara Gafan cs justru punya kesempatan menyerang. Serangan pun mereka lakukan berulang kali.
Lama kelamaan pertandingan semakin seru, bahkan kedua kesebelasan sudah mulai memperagakan permainan khas mereka (permainan ala kampung, tau kan). Walau demikian belum ada seorang pemainpun yang sampai digotong keluar lapangan. Konon masing-masing pemain punya ‘bawaan’ sendiri-sendiri.
Tapi permainan keras tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba wasit membunyikan peluit panjangnya pertanda babak pertama telah usai, tepat pada saat Gafan akan mencetak gol. Gol pun batal. Tak terbayang kecewa dan dongkolnya hati sang kapten.
“Lho pak, rasa-rasanya waktunya belum cukup 45 menit” protes Gafan pada wasit.
“Ssssssttt......perut saya mual nih, pingin buang air besar” jawab wasit sambil setengah berlari menuju ke sungai kecil (telabah) di pinggir lapangan. Telabah tersebut kelihatan ramai oleh pemain kedua kesebelasan yang turun minum (biasa...pemain kampung turun minum ke telabah). Wasit yang sudah tak tahan itu langsung saja nyebur ke telabah dan ‘ngebom’ sepuas-puasnya tanpa menghiraukan para pemain yang mencaci-makinya karena mencemarkan air sungai.
Gafan yang melihat hal tersebut mengurungkan niatnya minum di situ, ia melangkah ke bagian hulu sungai yang belum tercemar. Setelah minum puas-puas, sedianya Gafan mau ‘ngebom’ juga sebentar, perutnya terasa agak mules karena tadi makan es yang diberikan oleh sang menejer. Tapi baru saja Gafan akan melaksanakan niatnya, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara sang wasit membentak-bentak garang kepadanya.
“Hey monyet....jangan berak di depan saya ! Pindah sana ke belakang !!” teriaknya geram.
“Lho, ini ‘kan sungai ciptaan Tuhan pak” jawab Gafan tenang dan langsung ambil ancang-ancang mau buang air. Teman-temannyapun pada berdatangan juga hendak buang air. Rupanya mereka mules semua akibat es basi sang menejer.
“E..e..e..awas ya, yang coba-coba melanggar saya kasi kartu kuning” gertaknya sambil merogoh saku celananya dan memperlihatkan kartu kuning yang sudah kecipratan ‘kuning’-nya kotoran sang wasit.
Langsung saja Gafan cs mengurungkan niatnya, geram benar hatinya karena sudah dua kali sang wasit merugikan dirinya.
“Mudah-mudahan wasit kita ini diterkam buaya”
“Amiiiin” jawab yang lain serempak, namun tak membuat wasit bergeming dari tempat ‘pengebomannya’.
Read More......

PEMAIN KAMPUNG (1)

Kisah ini ditulis oleh ex. kapten kesebelasan The Dream Team dari sebuah kampung nan hijau di Pulau Lombok. Kisah ini setengah fiktif. Jadi, kesamaan nama pelaku, peristiwa dan tempat kejadian hanya ‘setengah’ kebetulan saja.

Gafan memacu motor bebeknya dengan cepat di jalanan kampung nan berdebu itu. Seperti ada sesuatu yang sedang dikejarnya. Beberapa orang penduduk yang kebetulan berpapasan dengan motor Gafan, cepat-cepat melompat ke samping menghindari kepulan debu di sepanjang jalan tersebut. Namun walau sudah berusaha sejauh mungkin menghindar, debu-debu tetap mengerubungi mereka.
Caci makianpun akhirnya terlontar untuk si pengendara motor yang masih dalam pakaian es-em-a-nya. Orang-orang tersebut pada mengipas-ngipasi debu di hadapan mereka yang tampaknya belum puas bersilaturrahmi dengan daki-daki di tubuh itu.
Sementara itu Gafan terus saja memacu motornya dengan cepat. Sesampainya di sebuah tikungan, dengan gaya seorang pembalap, Gafan membelokkan motornya dengan tajam, walhasil hampir saja ia menabrak Abah Halil yang lagi berbicang-bincang di tengah jalan dengan Pak RT dan dua orang Hansipnya. Namun untung saja mereka cepat menghindar, hanya Abah Halil saja yang agak lambat gerakannya sehingga ujung sorbannya sempat tergaet stang motor Gafan.
“Masya Allah” pekiknya kaget.
Pak RT cepat-cepat memegangi badan Abah Halil yang kelihatan sempoyongan. Sementara kedua hansip itu berusaha mengejar motor Gafan sambil seperti biasa mengacung-acungkan pentungnya. Namun motor Gafan melaju semakin mantap membuat pengejarnya ngos-ngosan. Merasa tak ada gunanya lagi melakukan pengejaran, maka kedua Hansip itupaun kembali ke tempat Pak RT yang kelihatan samar-samar di antara kepulan debu sedang memegangi Abah Halil yang tak henti-hentinya mengucapkan kalimah-kalimah toyyibah.
“Ndak apa-apa kan Bah ?” tanya Pak RT dengan nada khawatir.
“Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi saya,.....tttapi....buku saya....”ucapannya tertahan manakala ia melihat buku-bukunya yang berserakan di tanah dengan kertas-kertas berhamburan.
Pak RT tertegun, kasihan juga dia melihat Abah yang malang itu. “Biarlah nanti saya yang menggantinya. Nanti saya belikan buku yang lebih bagus “ kata Pak RT menghibur.
“Tapi pak........”
“Aaah ...sudahlah, Bah, harga buku ndak seberapa, nanti saya belikan yang lebih baru dan lebih tebal”
“Tapi pak,... di dalam buku itu ada catatan hutang-hutang saya.”
“Haaah........” Pak RT ternganga. “Eh Hansip, cepat pungutkan Abah Halil buku-bukunya ! Atur yang rapi kertasnya, tuh di sana selembar, di comberan selembar, cepat !”perintah Pak RT.
Kedua Hansip itupun dengan cepat mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Tak terkira dongkolnya hati mereka.
Sementara itu seperti tidak pernah terjadi suatu apapun Gafan tetap memacu motornya bagai seorang pembalap. Sampai ketika terdengar seseorang memanggil-maggil namanya, Gafan menginjak rem motornya keras-keras.
Siiiiiiiiit.....suaranya begitu keras sampai-sampai seekor sapi yang kebetulan sedang digembalakan di dekat tempat itu lari tunggang langgang hingga masuk ke halaman masjid yang mengakibatkan beberapa orang yang lagi tidur-tiduran di emperan depan masjid jadi bubar ketakutan.
Sedangkan Gafan sendiri juga terpaksa harus menggeret motornya yang punya semboyan Sekali mati Tak mau hidup lagi, yeaah. Sambil berjalan perlahan ia mencari-cari arah suara yang tadi memanggilnya. Dari kejauhan dilihatnya seseorang berlari-lari ke arahnya yang ternyata adalah Ali, teman seperjuangannya.
“Kebetulan sekali, saya lagi nyari kamu,” kata Gafan mendahului.
“Ada apa nyari saya ? Mau nebus celana kamu ya ? Jangan sekarang dong..., kan masa gadainya masih satu minggu lagi” kata Ali dengan nada dikeras-kerasin.
Tak terkira kesel dan malunya Gafan, karena kata-kata tersebut diucapkan pas ketika Si Ijah lewat di hadapannya. Konon Gafan lagi kesengsem berat sama anak Juragan Tempe ini, namun selalu mendapat jegalan dari Ali yang juga pernah jatuh cinta pada Ijah namun ditolak mentah-mentah karena Ali dianggapnya terlalu sering ngutang tempe. Sementara Gafan sendiri beberapa waktu lalu pernah coba-coba ‘ngirim seulas senyum’ dari jauh, dan nampaknya ada respon walaupun sedikit. Hal ini membuat Gafan lebih bergairah untuk ‘mengkampanyekan’ dirinya. Namun di lain pihak Ali justru ingin menjatuhkan Gafan di mata dunia.....eh...di mata Ijah. Berbagai cara dilakukannya, termasuk seperti membeberkan ikhwal gadai menggadai celana seperti yang terjadi pagi itu. Hampir saja kepala Ali yang rada-rada salah bentuk itu dibenturkannya di stang motornya. Namun cepat-cepat ditenangkan hatinya karena mengingat misi khusus yang sedang diembannya.
“Ada perlu apa sih, nyari saya ?” tanya Ali lagi sambil tersenyum-senyum puas setelah melihat Ijah monyongkan bibirnya.
Tanpa banyak bicara, Gafan menyodorkan selembar kertas pada Ali, lalu Ali membacanya berulang-ulang. Setelah agak lama iapun mengangguk-angguk.
“Mau maen bola ? Dalam rangka apa, kok ndak dijelaskan ?” tanya Ali sambil mengembalikan surat tersebut.
“Biasa.....Kambing CUP, dalam rangka memeriahkan hari EL-KA-EM-DE”
“Tapi kok mendadak benar bertandingnya, nanti sore ?”
“Ya..itulah sebabnya saya cari kamu.”
“Lho kok saya ? Saya kan ndak bisa maen bola”
Gafan tertegun sejenak, lalu mulai angkat bicara, “Tim kitakan ndak ada pengurusnya, jadi mumpung kamu ndak terpakai jadi pemain, ya....jadi pengurus saja, mau kan ?”
Ali manggut-manggut, “kalau jadi pengurus....sebutannya kurang keren, bagaimana kalau saya jadi menejer saja”.
“Yaa, terserah kamulah, mau sebutan menejer, pelatih, opisial dan sebagainya, yang penting tugas kamu ngurusin kesebelasan kita” ketus Gafan.
“Tapi apa saja tugas saya nanti ?”
“Tugas kamu antara lain, ngasih tahu pemain-pemain kita bahwa nanti sore kita akan bertanding melawan Kesebelasan KAPUWAS (Kalah Pukul Wasit). Di samping itu kau mesti beri petunjuk dan pengarahan-pengarahan pada temen-temen, mereka itu kan banyak yang buta huruf, ndak tahu namanya offside, freekick dan sejenisnya. Selain itu kamu mesti cari pinjeman kostum, dan yang lebih penting...taktik yang jitu.”
“Ali mengangguk-angguk, “oho.. kalau masalah taktik, itu sih memang bagian saya, biar ndak bisa maen, tapi masalah tak tik dan strategi percayakan saja pada ..AAALIIIII...” katanya sambil menepuk dada.
Kini giliran Gafan mengangguk-angguk. memang, selama ini taktik yang berikan oleh Ali tak usah diragukan lagi. Selama Ali mengomandoi kesebelasan kampung Gafan yang bernama Kesebelasan KAMBER (Kalah-Menang Berantem), kesebelasan tersebut tak pernah dikalahkan oleh kesebelasan manapun ........di bawah lima gol.
“Tapi kalau kostumnya kita minjam di mana ya ?” Ali.
“Kamu bisa pinjam sama kesebelasan Kakalo (Kalah Kalah Lonto) yang kemarin kalah lagi dalam pertandingan persahabatan melawan Kesebelasan BICAS (Biar Curang Asal Menang).
“Baiklah kalau begitu, sekarang saya mau kasi tahu temen-temen dulu,” kata Ali, “nanti habis zohor kita ketemu di masjid” lanjutnya sambil ngeloyor pergi meninggalkan Gafan yang terseok-seok menggiring motornya.

Usai Zohor di Masjid

Usai sholat zohor seperti janji semula Ali dan Gafan bertemu di masid.
“Bagaimana Li, teman-teman sudah diberi tahu ? tanya Gafan.
“Sudah...sudah semua, tapi mereka nampaknya belum siap betul, habis, beritanya mendadak.”
Gafan menarik nafas panjang, dalam hati ia mengumpat Pak Kades yang terlambat memberinya informasi.
“Bagaimana kalau kita liat-liat dulu persiapan temen-temen ?”
“Boleh” jawab Ali pendek.
Maka kedua makhluk ciptaan Tuhan itupun berlalu dari masjid tersebut guna melihat kegiatan pemain-pemain mereka. Satu demi satu rumah-rumah para pemain Kamber mereka datangi, tampaknya mereka sibuk semua.
Mohdan, salah seorang penyerang tengah, tampak sibuk mengulang-ulang jurus silatnya, soalnya pemain yang satu ini setiap ada pertandingan antar kampung, pasti berkelahi. Jadi yang dilatih bukan strategi maen bola, melainkan jurus-jurus andalan perguruan silatnya.
Setelah berlalu dari rumah Mohdan, mereka berdua menuju rumah Bakos yang dikelilingi pagar bambu. Kelihatan dari luar Bakos sedang mengelus-elus dengan minyak goreng betisnya yang berbulu keriting. Di sekeliling betis itu dipenuhi oleh belang-belang loreng hitam bekas koreng. Sungguh tak sedap dipandang mata, angker tuh betis. Konon, menurut catatan ‘Sang Menejer’, Bakos yang berbadan agak gemuk dan montok ini akan diturunkan apabila pemain musuh sudah bemain kasar. Hal ini disebabkan karena kekuatan betis bakos tiada tandingannya. No Strenght Like It, kata seorang pemain bule yang pernah beradu kaki dengannya. Tulang keringnya bagai batu, kerrras. Belum pernah ada seorang pemain pun yang berani coba bikin sensasi dengan cara adu kaki dengannya.
Hanya saja kelemahannya, bila ia sedang mengamuk di tengah lapangan, lalu datang bola ke arahnya, maka dengan seketika ia akan menendang bola tersebut keras-keras ke depan. Tak peduli di depan itu adalah gawangnya sendiri. Pokoknya ke mana saja ia menghadap, bola akan ditendangnya seketika ke sana. Bila ia menghadap selatan, maka bola ditendangnya ke selatan, begitu pula sebaliknya. Konon kelemahan satu ini merupakan pembawaannya sejak lahir, sehingga dalam pertandingan tak jarang Bakos dikeluarkan dari lapangan oleh Sang Menejer Ali karena terlalu sering melakukan tindakan Harakiri (bunuh diri).
Setelah berlalu dari rumah Bakos, Gafan dan Ali berjalan menuju rumah-rumah pemain lainnya. Sewaktu mereka melewati rumah Abah Halil, Gafan sempat melihat sosok tubuh mondar mandir di belakang rumah tersebut. Selidik punya selidik ternyata orang itu adalah Ihsan, sang penjaga gawang yang nampaknya sedang merengek-rengek sama Abah Halil minta dikasih ‘bekal’ supaya gawangnya ndak bisa kebobolan. Namun permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Abah Halil karena beliau menganggap maen bola itu hukumnya haram. Menurutnya, menendang bola sama dengan menendang kepala cucu nabi, Hasan dan Husen. Di samping itu memang beliau lagi dendem sama sang Kapten, Gafan yang tadi siang telah menyerempetnya di tikungan.
“Sudahlah San, kalau ndak dikasih, ya...sabar” hibur Gafan.
“Tapi bagaimana dengan gawangku ? Sementara saya sendiri belum fasih nangkep bola.” jawab Ihsan.
Ali dan Gafan saling pandang. Saat itu mereka baru sadar, bahwa selama ini kesebelasan mereka tidak punya kiper tetap. Kiper-kiper yang ada selama ini selalu mengundurkan diri usai kompetisi. Alasannya karena tidak tahan, sebab selalu jadi obyek sumpah serapah dari para pembotoh yang kalah taruhan. Walhasil, Kesebelasan KAMBER benar-benar mengalami ‘kelangkaan’ Kiper. Sedangkan Ihsan sendiri sebenarnya bukan berprofesi sebagai Kiper, melainkan pemain tengah cadangan yang tak pernah diturunkan selama 5 musim kompetisi. Dan saat ini ia menyediakan diri untuk tampil sebagai kiper dengan alasan demi meniti karier.
“Bagaimana kalau kita sewa dukun saja, setuju ?” usul Gafan.
“Ya..setuju, sebaiknya memang begitu” jawab Ihsan gembira seraya menepuk bahu Ali yang tampaknya mengernyitkan dahi karena akan menanggung biaya sewa dukun.
Tiba-tiba dari arah kejauhan tampak Bakos berlari-lari kecil ke arah mereka bertiga.
“Ada apa Kos ?” sapa Gafan.
“Sudah dapat minjem kostum ?” tanya Bakos terengah-engah sambil menjulurkan lidah.
“Sudah, kita minjem sama kesebelasan Hiu Laut.”
“Haa..Hiu Laut, wadduh kostumnya mesti kita cuci dulu bersih-bersih dengan air panas, soalnya anak-anak Hiu Laut banyak yang panu-an, saya ndak mau ketularan panu lebih banyak lagi...., ini saja sudah kelebihan” kata Bakos sambil memperlihatkan panu di sekujur tubuhnya yang mirip peta Negara Rusia.
“Itu sih sudah beres Kos” jawab Gafan berbohong.
Lega rasa hati Bakos, lalu cepat-cepat ia pergi meninggalkan ketiga temannya untuk pulang (minta do’a restu ibu).
Read More......

INSYA ALLOH..... NGGAK JANJI DEH

“Insya Alloh-nya mahasiswa sekarang sudah kena polusi. Insya Alloh-nya orang sekarang tak lebih artinya dari nggak janji deh,” ujar Pak Syukri suatu hari ketika ia mengutarakan keinginannya untuk mengadakan seminar yang berjudul “Insya Alloh”.
“Saya mau ngadain seminar macam ini semata-mata karena keprihatinan saya terhadap penyalahgunaan kata Insya Alloh,” ungkapnya.

“Makanya…, uang kiriman jangan dipakai foya-foya,” tukas Pak Syukri, Dekan Fakultas Sospol Universitas Maju Tak Gentar. “Inilah akibatnya, tidak bisa ikut ujian semester, tapi untung…….,” lanjutnya tanpa melanjutkan kata-katanya.
Kini giliran Gafan kernyitkan dahi. “Iya dah Pak, sekali ini saja, mohon kebijaksanaan Bapak,” jawab Gafan sambil garuk-garuk kepala seraya menyerahkan Surat Pernyataan siap melunasi SPP usai semesteran.
“Lalu, kapan mau ngelunasin es-pe-pe-nya ?” tanya Pak syukri.
“Dua minggu lagi………Insya Alloh.”
“Insya Alloh ?” Pak Syukri kernyitkan dahi seraya memandang wajah Gafan.
“Ya…Insya Alloh, emangnya kenapa ?”
“Maaf, Insya Alloh-nya mahasiswa sekarang tidak bisa dipercaya, sudah tercemar. Saya tidak mau terima surat pernyataanmu kalau pakai kata Insya Alloh.”
“Iya dah Pak, saya janji dua minggu lagi” jawab Gafan dengan cepat.
Mendengar hal tersebut Pak Syukri dengan tenang langsung menandatangani Surat Pernyataan Gafan setelah terlebih dahulu men-tip-ex kata Insya Alloh yang ada di dalamnya.
Insya Alloh adalah kata yang memang seharusnya diucapkan oleh seorang muslim yang akan mengadakan perjanjian, dengan catatan apabila kelak janji tersebut tidak bisa ditunaikan karena memang ada sebab-sebab tertentu yang tidak memungkinkan si pembuat janji untuk menepatinya, maka janji itupun bisa dibatalkan tanpa dihitung sebagai sebuah hutang.
Namun bagi Pak Syukri, kata Insya Alloh yang sering didengarnya, kebanyakan diucapkan dengan tujuan agar si pembuat janji dapat leluasa untuk seenaknya mau atau tidak menepati janjinya walau tanpa ada “uzur” sekalipun. Karena begitu banyak telah makan asin garamnya Insya Alloh, maka Pak Syukri tak pernah mau lagi mengadakan perjanjian dengan siapapun termasuk mahasiswanya apabila dalam perjanjian tersebut ada kata-kata Insya Alloh.
“Insya Alloh-nya mahasiswa sekarang sudah kena polusi. Insya Alloh-nya orang sekarang tak lebih artinya dari nggak janji deh,” ujarnya suatu hari ketika ia mengutarakan keinginannya untuk mengadakan seminar yang berjudul “Insya Alloh”.
“Saya mau ngadain seminar macam ini semata-mata karena keprihatinan saya terhadap penyalahgunaan kata Insya Alloh,” ungkapnya.
“Bukan begitu pak…….” bantah seorang mahasiswa.
“Dengar dulu, saya belum selesai ngomong! Walau apa yang saya utarakan ini memang kelihatannya remeh, namun hal ini saya rasa cukup prinsip. Mengapa demikian? Coba saja saudara bayangkan, arwah seorang manusia sudah meninggal (mana ada yang belum meninggal) akan mengambang jika masih punya hutang. Dan janji itu adalah hutang. Al-wa’du daenun, ingat itu !!” katanya berapi-api menyitir sebuah hadist.
“Tapi kan kita sudah…….. “ bantah seorang mahasiswa.
“Dengar dulu saya belum selesai ngomong! Nanti kalau saya sudah selesai ngomong, baru kalian boleh memberi argumen,” ucap pak Syukri kembali. “Bila kalian mengucap Insya Alloh, saya yakin kalian tak kan merasa mepunyai beban untuk melunasi janji kalian” lanjutnya.
“Bukan begitu Pak………..” bantah Gafan mulai ikut-ikutan.
“Dengar dulu saya belum selesai ngomong! Nanti kalau saya sudah selesai ngomong, baru kalian boleh memberi argumen. Pokoknya jangan banyak celoteh, tak usah mengelak, karena saya telah banyak dikibuli oleh kata-kata Insya Alloh kalian.”
Puluhan mahasiswa yang menghadiri kuliahnya hanya bisa manggut-manggut tanpa komentar karena konon dosen “non-terbang” satu ini terkenal tak mau kalah debat, apalagi debat dengan kusir.
“Sekarang saya sudah selesai ngomong. Silahkan keluarkan argumen kalian!” lanjut Pak Sukri seraya hendak beranjak meninggalkan tempat itu.
“Jangan pergi dulu dong, pak. Kita kan mau memberi argumen,” ujar Gafan.
“Silahkan saja ngomong berargumen! Ndak ada yang larang, kok. Kalian bebas berargumen, sayapun bebas pergi,” kata Pak Syukri sembari langsung ngeloyor pergi dengan cueknya.
Para mahasiswa pada melongo.
“Besok, hari Rabu tanggal sembilan belas November pukul enam belas sore, kalian saya haruskan hadir pada seminar Insya Alloh, mengerti ?!!” teriak pak Syukri dari kejauhan.
“Ngerti……”
“Kalian harus hadir, ya ?!”
“Insya Alloh….”
“???”
* * *

Hari Rabu
19 Nopember pukul 16 sore…………

Sorakan dan tepukan riuh rendah mewarnai berlangsungnya seminar “Insya Alloh” yang dilangsungkan di Aula Universitas Maju Tak Gentar. Pak Syukri yang saat itu bertindak sebagai moderator, pembahas, penyaji, MC sekaligus narasumber, tampak begitu puas melihat jumlah peserta yang hadir melebihi target. Hanya saja seminar itu terlihat janggal karena moderator, pembahas, penyaji, protokol sekaligus narasumber dirangkap sendiri oleh Pak Syukri. Alasannya, ketika para dosen lain diminta kesediaannya untuk berpartisipasi, semua menjawa “Insya Alloh”. Hal ini rupanya yang membuat Pak Syukri tak mau ambil resiko kalau-kalau nanti mereka tidak hadir.
“Insya Allohnya saudara-saudara berarti boleh hadir boleh tidak,” ungkapnya. “Itu berarti meremehkan, dan saya paling tidak suka diremehkan,” lanjutnya yang membuat beberapa dosen saling pandang.
Dan saat seminar berlangsung, tak satupun dosen yang tampak, karena memang tidak diundang. Pak Syukri sudah memutuskan untuk tidak jadi mengundang dosen-dosen yang berjanji dengan kata Insya Alloh. Padahal Pak Syukri sendiri dalam surat undangannya memakai kata Insya Alloh.
“Kata-kata Insya Alloh dalam surat undangan saya ada maksud politisnya, nanti kalian akan tahu sendiri,” ujarnya ketika dikritik sejumlah mahasiswa perihal pencantuman kata Insya Allah pada surat undangan tersebut.
Sementara itu di lain pihak, mahasiswa yang menghadiri undangan itu cukup banyak, nyaris membludak hingga ke emperan kampus. Akibatnya banyak peserta yang tidak kebagian tempat duduk. Padahal seperti yang sudah kita maklumi bersama, bahwa mahasiswa sekarang paling alergi dengan seminar, lokakarnya, sarasehan dan sebangsanya.
Beberapa waktawan amatiran kelihatan duduk dengan serius sambil mencatat tiada henti dari awal acara. Sesekali mereka mengadakan tanya jawab dengan peserta di sebelahnya.
“Apa yang membuat anda tertarik mengikuti acara seminar ini?” tanyanya pada seorang mahasiswa berambut gondrong.
“Bukan apa-apa sih, bung, tapi ini nih,” jawab si gondrong tersebut sambil meunjukkan surat undangan seminar yang di dalamnya ada bacaan NB: DILANJUTKAN DENGAN ACARA MAKAN-MAKAN. Wartawan tersebut manggut-manggut, kembali melanjutkan mencatat.
Sementara itu terdengar salah seorang peserta mendebat Pak Syukri dengan sengitnya. Konon peserta tersebut berasal dari Fakultas Tarbiyah yang memang paling doyan berdebat masalah teologi, perbandingan mazhab dan sejenisnya.
“Saya kurang sependapat dengan Bapak,” jawab mahasiswa itu dengan lantang. “Seseorang yang berjanji dengan mengucapkan Insya Alloh, kemudian dia sengaja tidak menepati janji, saya rasa tidak ada masalah. Sebab dia tidak menepati janji tersebut karena memang hatinya tidak digerakkan oleh Allah untuk menepati janji. Ini kan berarti Allah tidak memberinya ijin. Jadi kita kembalikan ke Allah dong ….yang tidak memberinya ijin. Sedangkan Insya Alloh itu kan artinya atas ijin Allah,” lanjutnya dengan berapi-api sambil mengacung-acungkan tangan seperti juru kampanye.
“Terima kasih,” jawab Pak Syukri tenang. “Dari statemen anda saya berkesimpulan, anda seakan-akan mau menyalahkan Allah yang anda katakan tidak menggerakkan hati orang tersebut untuk menepati janji. Memang hidayah itu datangnya dari Allah, dan yang diberi hidayahpun dipilih oleh Allah, yaitu orang yang mau berusaha, yaitu mau berusaha menepati janji. Segala sesuatu harus dari usaha kita dulu baru kemudian serahkan ke Allah,” ujar Pak Syukri sembari mengutip sebuah ayat Al-qur”an.
Mahasiswa tadi melongo, rupa-rupanya kehabisan perbendaharaan ilmu. Terus diputar otaknya berpikir bagaimana cara menjawab argumen tadi. Pokoknya bisa dibantah, salah atau benar itu urusan belakang. Yang penting baginya bisa menunjukkan keintelektualannya dengan cara mendebat dosen, sebab dengan cara ini biasanya kualitas keilmuan mahasiswa bisa diakui. Masalah di luar mau mengamalkan ilmu atau tidak, sholat atau tidak, itu urusan belakang. Yang penting dosen kalah debat atau setidak-tidaknya berani didebat.
“Begini Pak !!” kata mahasiswa tadi masih dalam posisi berdiri sambil mikir-mikr apa yang akan dikatakannya. Cukup lama juga ia mikir, rupanya benar-benar kehabisan ilmu.
“Udaaaah…. duduk aja lu !!” celetuk mahasiswa di belakangnya diiringi gerutuan mahasiswa lainnya. “Percuma janggut kamu begelantungan, tapi segitu aja keok,” lanjut yang lainnya.
Pak Syukri tersenyum kecil, rada gembira juga dia karena pendebat tadi mati kutu olehnya.
Seorang mahasiswa lain berjanggut agak panjang tampak berdiri, diraihnya mic yang disediakan buat para peserta. Setelah berdehem-dehem sebentar iapun mulai berkata-kata dengan tangan agak sedikit gemetar (biasa…mahasiswa, prinsipnya biar gemeter yang penting sok).
“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya, sehingga saya dapat menyampaikan tanggapan atas permasalahan yang kita bahas saat ini. Sebelumnya marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan karena atas limpahan ………,” baru sampai di situ si Janggut ngomong, tiba-tiba terdengar teriakan seorang mahasiswa di belakangnya. Kiranya si mahasiswa gondrong coba-coba bikin sensasi.
“Hey Janggut !! To the point saja kenapa, sih!! Pake terima kasih-terima kasih segala. Pake puji syukur segala, emangnya ini pengajian?! Langsung aja biar nih acara cepet kelar !!” gerutunya yang disetujui oleh mahasiswa sejenisnya.
“Maaf saudara gondoruwo….eh… saudara gondrong,” jawab mahasiswa Janggut tadi dengan nada agak jengkel, “Ini etika dalam seminar, saya harap saudara menghormati etika, dahulukan kesopanan daripada keperluan, begitu kata orang bijak.”
“Sudahlah, banyak omong lu. Awas kalau sampai keok berdebat!” jawab si Gondrong dengan sengit. Hampir saja suasana memanas. Kalau saja ada kursi yang kosong, barangkali akan ada acara lempar kursi seperti yang sedang “ngetrend” akhir-akhir ini.
“Silahkan dilanjutkan saja, Nggut !” pinta Pak Syukri kepada si Janggut.
“Begini Pak ! Bapak tadi mengatakan bahwa orang yang mendapatkan hidayah itu adalah orang yang mau berusaha…. berusaha untuk mencari hidayah. Nah, sekarang saya minta Bapak tunjukkan saat ini juga di mana saya harus mencari hidayah,” tanya mahasiswa Janggut dengan agar ngawur.
“Di sono, di belakang kampus ada janda kembang yang namanya Hidayah,” celetuk mahasiswa gondrong kembali. Si Janggut cuek saja.
Pak Syukri ambil ancang-ancang menjawab pertanyaan mahasiswa tadi, terlebih dahulu diminumnya segelas kopi di hadapannya yang sedari tadi dikerubungi lalat.
“Terima kasih atas pertanyaannya. Jadi, mencari hidayah tidak sama dengan mencari capung atau mencari jarum dalam jerami dapat rusa belang kaki….eh…sory. Mencari hidayah sama dengan mencari petunjuk. Caranya ya…itu tadi…dengan berusaha dan berdo”a kepada Alloh agar kita diberi-Nya petunjuk. Petunjuk untuk melaksanakan perintah, termasuk biasa menepati janji dan ………..”
“Interupsi Pak….!! Kalau sudah dicari lalu ndak ketemu bagaimana ?”
“Pasti ketemu asal kita sungguh-sungguh.”
“Saya sering berusaha nyari hidayah tapi ndak pernah ketemu, saya sering berusaha untuk menepati janji, tapi ndak bisa,” lanjut mahasiswa Janggut dengan sengitnya. Sebagian besar mahasiswa lain pada menyetujui, mereka mengangguk-angguk membenarkan seraya mengacung-acungkan tangan mirip unjuk rasa buruh telat digaji, sehingga suara Pak Syukri yang mau menjawab jadi nyaris tak terdengar. Kayaknya, mahasiswa ingin menumpahkan kekesalan hatinya pada Pak Syukri yang terdengar dengan sebutan “Pak omel” karena memang sering ngomel dan tak pernah mau kalah debat dengan siapapun.
Tentunya yang paling bersemangat ingin memojokkan Pak Syukri adalah mahasiswa yang sering kena omel lantaran sering nunggak uang kuliah. Dalam hal ini Gafan ambil inisiatif memimpin rekan-rekan “senasibnya”.
“Sudahlah Pak, sportif saja Bapak kalah,” ujar si janggut.
“Kita di sini bukan mencari kemenangan, tapi kita di sini mau mencari kebenaran,” kilah Pak Syukri.
“Lho, kalau Bapak menganggap pernyataan Bapak tadi benar, maka kamipun menganggap pernyataan kami benar, bukan begitu teman-teman ?”
“Bukaaaaan……”jawab beberapa mahasiswa lain yang ternyata group si gondrong. Mahasiswa Janggut jadi geregetan, namun kembali meneruskan bicaranya.
“Dan perlu diingat, jika ada dua pendapat benar, maka pendapat yang berhak dipakai ialah pendapat yang tentunya memperoleh dukungan suara terbanyak. Sekarang kita lihat pendapat mana yang terbanyak mendapat dukungan? Kami kan? Tak satupun mahasiswa mendukung pendapat Bapak.”
“Saya mendukung pendapat Pak Syukri !” terdengat celetuk keras dari belakang yang ternyata mahasiswa gondrong. Semua peserta menoleh ke arahnya.
“Terima kasih,” ujar Pak Syukri agak ceria, “Coba saudara yang gondrong berikan argumentasi saudara kepada teman-teman mahasiswa yang lain.”
“Saya ndak punya argumen apa-apa, Pak.”
“Lalu, ngapain mendukung saya ?”
“Bukan apa-apa Pak, cuma saya rada sebel sama si Janggut,” tandasnya sambil nyengir yang langsung mendapat cercaan dari “gank” si Janggut.
“Baiklah saudara-saudara mahasisa …eh.. mahasiswa,” ujar Pak Syukri dengan nada agak kalem, seraya menenangkan mahasiswanya yang ribut. “Saya menghargai pendapat kalian. Jadi kesimpulannya menurut pendapat kalian, bila kita berjanji dengan mengucap Insya Alloh, lalu janji itu tidak kita tepati maka bukan salah kita, begitu kan?”
“Yaa…kita tidak salah,” jawab para mahasiswa dengan lantangnya. “Dan Bapak harus sepakat dengan keputusan bersama ini,” lanjutnya.
“Baiklah, kalau itu yang kalian inginkan, saya terima.”
Maka serentak para mahasiswa bersorak kegirangan karena baru kali ini mereka dapat mengalahkan Pak Syukri berdebat. Sebenarnya mereka mengakui bahwa apa yang disampaikan Pak Syukri adalah benar, namun sayangnya yang sedang dicari mahasiswa saat itu bukan kebenaran, melainkan kemenangan, ya.. kemenangan berdebat dengan Pak Syukri.
“Dengan demikian maka seminar Insya Alloh ini saya nyatakan ditutup saja,” ujar Pak Syukri di tengah riuh rendahnya suara mahasiswa yang saling menyalami. “Dan acara makan-makan yang sedianya akan kita laksanakan setelah ini, saya nyatakan dibatalkan.”
“Lho jangan gitu dong Pak,” protes para mahasiswa, “Janji itu adalah hutang, Al-Wa’du daenun. ‘Kan Bapak sendiri yang berkata demikian.”
“Bukankah ini kesepakatan ?” tukas Pak Syukri membela diri, “Coba baca dengan jelas-jelas surat undangan yang saya berikan pada kalian.”
Semua mahasiswa membuka surat undangan, sambil ngecek barangkali ada kelainan pada surat undangan tersebut. Di bagian paling bawah pada catatan kaki terdapat tulisan NB: INSYA ALLOH DILANJUTKAN DENGAN ACARA MAKAN-MAKAN.
“Sekali lagi sesuai kesepakatan, kita tidak salah jika tidak menepati janji, asal ada kata Insya Alloh. Tok..tok..tok.” palu diketuk, Pak Syukri keluar tanpa menghiraukan gerutu para mahasiswanya, termasuk si gondrong yang saat itu kelihatan paling lapar. Kontan saja diangkatnya sebuah kursi, lalu dilemparkannya ke arah si Janggut yang dianggapnya sebagai biang kerok gagalnya acara makan-makan.
“Kampret lu, janggut. Itu bukan janggut ustad, tapi janggut sinterklas,” ucapnya jengkelnya.
Si Janggut tak mau kalah, balas menimpuk si Gondrong dengan kursi. “Brengsek lu gondrong. Lu mahasiswa apa genderuwo. Tempatmu bukan di kampus, tapi sana…. di pohon beringin,” balas si janggut sambil mengangkat sebuah kursi dan melemparkannya hingga nyangkut di rambut si gondrong. Tak mau kalah, si gondrong pun langsung mengambil sebuah kursi dan langsung melemparkannya ke arah si janggut hingga ujung kaki kursipun nyangkut di janggut si janggut.
Walhasil, terjadilah saling lempar kursi di ruangan tersebut yang dilakukan oleh para mahasiswa yang katanya penuh dengan idealisme. Gank si janggut bertarung melawan gank si gondrong. (##)
Read More......

GARA-GARA RAZIA

Ide awal cerita ini adalah ketika suatu pagi saya diperintah meliput suatu kegiatan. Mendadak di tengah jalan saya nyaris ketangkep razia polisi. Saat itu SIM saya udah kadaluarsa 11 tahun. Akibatnya saya harus cari akal bulus supaya ndak kena razia dan .......... kejadian ini yang saya tulis jadi cerpen. Eee... ndak taunya, pas lomba cerpen tahun 2007 yang diadain Lombok Post, cerpen ini ternyata dapat juara satu. sayang sekali ya..... hehehe...... oke dah baca saja kisahnya. moga terhibur.....


Pagi itu Gafan terlihat ngedumel tidak karuan di ruang komputer. Padahal ia baru saja tiba di kantornya. Macam-macam omelan dan sumpah serapah keluar dari mulutnya. Hampir semua isi kebun binatang disebut-sebutnya untuk menumpahkan kekesalan. “Kalo ada acara, ya, bilang dari kemarin, kek. ‘Kan saya bisa langsung ke lokasi. Jangan kayak begini, informasinya mendadak. Bikin kesal saja,” gerutunya.
“Tapi ini perintah dari bos. Saya juga ditelpon barusan sama dia. Ini, nih, lihat HP saya kalo ndak percaya. Tuh… lihat di panggilan masuk, lihat jamnya,” jawab Pak Pram, atasan Gafan. “Tolonglah sekali ini saja, soalnya ini acara penting, please..,” lanjut Pak Pram sembari mengutak-atik HP-nya mencari-cari file panggilan masuk. Tapi sayang karena tuh jari tangan kebesaran, maka dua tuts HP yang tertekan sekaligus.
Gafan melongok memperhatikan tangan Pak Pram yang berulang-ulang menekan tombol HP-nya. “Terus, acaranya di mana?” tanya Gafan
“Di Asrama Merah Putih, jam delapan,” jawab Pak Pram sembari melongok jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh. “Kalau bisa agak dipercepat ya, soalnya ini acara penting,” lanjutnya.
“Jam delapan? Mana bisa? Perjalanan kesana sekitar empat puluh menit. Dan sekarang ‘kan hari Jumat, biasanya rame di jalan. Bisa sampai satu jam baru nyampe,” tukas Gafan berusaha agar Pak Pram membatalkan perintahnya.
“Ndak apa-apa, kok. Cepat berangkat saja. Biar terlambat yang penting kamu hadir, tolong Fan, plis…, plis…,” pintanya.
“Tapi.. saya sekarang pake kaos oblong, ndak sopan,” kata Gafan berkilah.
“Ndak apa-apa, yang penting pake baju. Meski terlambat, meski pake kaos oblong, kaos bolong, ndak apa-apa, yang penting kamu hadir. Oke, tolong Fan, plis.. plis..,.” kembali Pak Pram memelas.
Gafan pun hanya bisa menarik nafas panjang. Ia kembali pasang jaket yang baru saja digantungnya. Plas plis…plas plis… emangnya saya cuplis, gerutu Gafan dalam hati. “Iya dah pak, saya berangkat sekarang,” jawab Gafan yang membuat Pak Pram lega. Pria tinggi besar itupun lalu meninggalkan ruang komputer sambil terus mengutak-atik tuts HP-nya yang rada kabur.
Sebenarnya Jumat pagi itu Gafan berencana menyelesaikan naskah tulisan yang akan dikirimnya ke sebuah koran nasional. Tapi karena ada perintah mendadak dari Bos melalui Pak Pram, akhirnya rencananya berubah. Tak terkita kesal hatinya. Padahal saat itu ia lagi mood untuk nulis. Dan yang membuat Gafan lebih kesal adalah jarak dari kantornya ke lokasi acara sekitar 20 kilometer. Andaikata si Bos dari kemarin menginformasikan, tentu Gafan tak perlu repot ke kantornya dulu. Gafan bisa langsung ke lokasi acara yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari rumahnya. Ini yang bikin dia jengkel.
“Mestinya dari kemarin tugasin saya hadiri acara. ‘Kan saya bisa langsung dari rumah ke lokasi. Ndak bolak-balik seperti ini. Habis-habiskan bensin dan tenaga saja,” gerutu Gafan di ruang komputer. Kebetulan di situ ada Hadi yang lagi ngetik juga. Dia hanya melirik sedikit, setelah itu lanjut mengetik.
“Giliran acara yang jauh-jauh, pasti saya yang disuruh liput. Tapi pas acaranya dekat, langsung pada berebutan menghandel,” gerutu Gafan lagi.
“Sabar…. sabar… orang sabar pantatnya lebar,” jawab Hadi sambil ngetik.
“Apa katamu?” tanya Gafan agak galak.
“Sabaar…. orang sabar perutnya besar,” jawab Hadi lagi tanpa menghiraukan Gafan yang lagi kesal.
“Sabar…sabar…. ketek lu bau ketumbar,” ketus Gafan sambil berlalu meninggalkan Hadi seorang diri.
* * *

Sambil memacu motornya Gafan tak henti-henti menggerutu dalam hati. Perasaan kesalnya terbawa saat mengendarai motor. Begitu ada motor lain yang menyalipnya dengan agak ngebut, kontan saja dikejar dan disalip lagi. Motor yang disalip tak mau kalah, kembali menyalip motor Gafan. Akhirnya keduanya pun balapan. Dan sudah dipastikan, kalau balapan di jalan, Gafan pasti….. kalah. Maklum motor jarang diservis.
Begitu pula saat ada cidomo jalan agak di tengah kontan saja didampratnya keras-keras. Pokoknya semua yang bisa dijadikan ajang untuk menumpahkan kekesalan, langsung ditumpahkan di situ. Termasuk ketika akan melewati perempatan, lampunya menyala merah. Tak terkira kesal hati Gafan. Lampu merah pun dicaci makinya.
Di perempatan berikutnya, lampu merah lagi yang menyala. Di perempatan ketiga, kembali lampu merah. “Lampu sial..,” gerutunya sendiri. Begitu nyala lampu hijau langsung saja ia menggenjot motornya sekencang mungkin hingga nyaris standing. Namun mendadak dari arah depan nyelonong anak muda bersepeda motor melintas dengan kencang. Rupanya si pengendara tak peduli dengan lampu merah. Dengan enaknya dia memotong jalur tepat di depan Gafan. Melihat hal itu tentu saja Gafan menginjak rem sekuat tenaga. Terdengar suara derit ban motor Gafan yang beradu dengan aspal.
“Setaaaannn….,” teriak Gafan pada anak muda tersebut. Tapi sayang anak muda itu hanya nyengir sembari memacu motornya bak seorang pembalap.
Gafan kembali konsentrasi mengendari motornya. Tak lama berselang tiba-tiba ia teringat sebuah “pepatah liar” yang berbunyi, biasanya kalau dari awal sudah sial, seterusnya akan sial juga. “Ah.. persetan.. tahayul,” ucap Gafan dalam hati menjawab pepatah yang ia ingat-ingat tadi.
Gafan berusaha tidak percaya pepatah liar tersebut. Menurutnya itu hanya sugesti saja. Masak sih, kalau dari pagi sial, terus sampai siang bakal sial juga. Namun walau berusaha tidak mempercayai, ia agak terpengaruh juga. Sebab kerap ia alami kejadian-kejadian sial yang bermula dari kesialan awal di pagi hari. Ya, mirip-mirip seperti hari itu.
“Ahh.. per….setaaaan...!!” soraknya keras.
“Hey…. kamu bilang apa tadi? Kamu nyumpahin saya setan, ya?!” tanya seorang pengendara di samping Gafan dengan nada garang. Pengendara motor itu memepet motor Gafan dan memandangi Gafan agak melotot.
Tentu saja Gafan kaget. Saat itu ia tak sadar kalau ngomong sendiri dengan suara keras di tengah jalan. “Waduh maaf pak… saya tadi ngomong sendiri… sory pak, s-s-saya kira Bapak setan, ..eh.. maksud saya... s-saya tadi nggerutu sendiri,” ujar Gafan. “Sory lho, pak,” lanjutnya sembari ngebut meninggalkan pengendara tersebut.
Kembali Gafan memacu motornya. Dan kini ia sudah masuk ke wilayah pusat kota. Jalannya agak rame sehingga harus pandai-pandai meliuk-liuk di sela-sela kendaraan yang lalu-lalang.
Saat akan tiba di perempatan dekat sebuah kantor distributor pupuk, nampak di sana menyala lampu merah. Tapi Gafan tenang-tenang saja. Sebab, toh, nantinya ia akan belok kiri. Jadi, mau merah, kek, kuning-hijau biru, terserah, katanya membathin.
Sampai di perempatan, langsung saja ia belok kiri lalu tancap gas... dan…. astaga, di depan ada razia. Sekitar lima puluh meter di depan, belasan polisi berdiri di tengah jalan. Semua sepeda motor disuruh menepi dan diperiksa surat-suratnya.
Gafan sendiri langsung menginjak rem motornya. Dadanya berdebar. Sebab kalau kali ini kena razia sudah pasti motornya bakal diangkut polisi. Sudah sejak dua tahun ini STNK-nya mati. Begitu pula SIM-nya, jangan ditanya lagi…. sudah mati hampir 11 tahun. Meski kerap ditangkap dan kena denda puluhan ribu, namun tak membuat Gafan jera dan mau begitu saja bikin SIM dan urus STNK. Menurutnya, kalau ada razia, ‘kan bisa nyelinap masuk gang-gang kecil dan…. menghilang. Ataupun kalau ketangkap, ya… paling-paling bisa kasih 20 ribu. Setelah itu…. bebas dah.
Tapi kali ini, Gafan agak gentar juga sebab ia tak bawa uang satu sen pun di dompetnya. “Wah.. bisa jalan kaki nih,” katanya dalam hati.
Gafan berusaha kabur. Tapi sayang di kiri kanan jalan tersebut tidak ada gang-gang kecil. Begitu pula saat mau balik, terlihat seorang polisi berdiri tak jauh di belakangnya. Polisi itu berdiri di samping motor RGR-nya. Rupanya ia berjaga-jaga kalau-kalau ada pengendara yang balik dan mau lari. Untungnya polisi tersebut tidak melihat Gafan yang lagi panik.
Namun di saat-saat genting tersebut, mendadak mata Gafan tertuju pada kantor distributor pupuk di sebelah kirinya. Kantor tersebut kebetulan gerbangnya terbuka. Langsung saja Gafan masuk ke kantor tersebut dan menuju bagian belakang. Kebetulan di situ ada tempat parkir karyawan. Gafan pun dengan cepat memarkir motornya. Hatinya agak tenang sekarang. “Alhamdulillah, selamat, dah,” ucapnya dalam hati dengan perasaan lega.
Gafan membuka helm dan jaket kesayangannya lalu menggantungnya jadi satu di tangkai kaca spion motor. Setelah itu ia melongok kiri kanan sejenak memperhatikan sekelilingnya. Tampak olehnya beberapa pengendara di jalan raya terlihat panik begitu tahu di depannya ada razia. Bahkan ada di antaranya yang balik kanan namun langsung di hadang oleh polisi yang pake RGR tadi.
“Rasain, ketangkep-ketangkep, dah…,” guman Gafan seorang diri sambil tersenyum. Senang betul hatinya melihat orang-orang pada kena razia.
Namun tak jauh dari tempat Gafan berdiri sepasang mata mengamat-amati dirinya dengan penuh curiga. Ya, Satpam kantor tersebut terlihat mengintip-intip dari balik tirai di dalam kantor. Rupanya si Satpam agak curiga dengan kehadiran Gafan. Entahlah mungkin Gafan dianggapnya sindikat kawanan pencuri helm.
Gafan sendiri tidak menyadari dirinya diamat-amati. Bahkan ketika si Satpam berjalan ke arahnya pun Gafan belum juga sadar. Ia masih saja asyik memandangi pengendara yang lalu lalang dan panik bakal ketangkap razia.
“Ehmm….!! Ehem…!!” terdengar suara deheman agak berat dan dipaksakan.
Gafan agak kaget lalu balik kanan, ternyata di belakangnya seorang Satpam berperawakan jangkung sudah ada di belakangnya. Gafan coba senyum sedikit, sekedar menunjukkan rasa persahabatan. Tapi sayang si Satpam enggan membalas senyumnya. Malah ia terlihat menyeringai sehingga kumis lelenya yang beberapa helai itu terangkat.
“Mau cari siapa?!” tanya Satpam dengan suara digalak-galakin.
“Ng.. anu… s-saya numpang parkir, tadi mau ketangkep razia,” jawab Gafan sambil nyengir.
Si Satpam mengamati-amati Gafan dari ujung dengkul sampai ke ujung bulu idung. Kayaknya tuh Satpam masih belum yakin. Setelah itu si Satpam menoleh melihat motor Gafan yang diparkir bersamaan dengan motor karyawan kantor tersebut. Dan sebelum sempat si Satpam lebih jauh tanya ini-itu, Gafan langsung menawarkannya rokok.
“Mari pak, ngerokok,” ucap Gafan sembari lebih dahulu ia cabut rokok dari bungkusnya sebatang. Setelah itu sisa rokok tersebut diserahkannya bulat-bulat beserta bungkusnya ke Satpam tadi.
Rupanya siasat Gafan mempan juga. Si Satpam kontan agak bersahabat begitu ditawarkan rokok. “Untuk saya nih? Semua?” tanya Satpam kumis lele itu.
“Iya, silahkan,” jawab Gafan dengan ikhlas merelakan rokoknya.
Si Satpam pun segera berlalu membawa bungkusan rokok tersebut. Namun baru beberapa langkah, tuh Satpam langsung berhenti dan menoleh ke arah Gafan. “Sialan, isinya tinggal satu batang. Kirain masih penuh,” gerutunya sembari mencabut isi rokok satu-satunya itu lalu membuang bungkusnya. Gafan hanya nyengir kecil sambil melihat Satpam yang terus berjalan masuk kantor.
Tak lama berselang, tiba-tiba seorang pengendara motor tanpa helm masuk ke halaman kantor tersebut. Pengendara itu terlihat panik. Belum sempat ia matikan motornya, tiba-tiba seorang polisi dengan motor RGR langsung menuju kearahnya. “Hey.. sini kamu! Mau coba-coba lari ya?!” bentak polisi pada pengendara tersebut. Polisi itu dengan gesit mencabut kunci motor orang itu. Si pengendara yang masih remaja itu terlihat agak ketakutan.
“Mana surat-surat?” tanya polisi.
“Ss..surat apa, pak?”
“Ya.. surat-surat kendaraan, dong. Masak surat cinta?” bentak polisi dengan garang.
Dan ternyata pemuda itu tidak bisa menunjukkan surat kendaraannya alias SIM dan STNK. Iapun kemudian digelandang pak Polisi. Sementara polisi yang lainnya datang segera untuk membawa motor pemuda tersebut. Rupanya si pemuda tadi sengaja masuk ke kantor itu untuk menyelamatkan diri dari razia, namun ketahuan polisi.
Melihat adegan itu Gafan agak kaget juga. Dadanya berdebar agak kencang. Gafan khawatir tuh polisi tahu kalau dirinya juga sedang berada di tempat tersebut dalam rangka penyelamatan diri. Apalagi tuh polisi terlihat memandangi sekeliling tempat itu termasuk memandang Gafan. Gafan agak grogi dan makin berdebar. Namun secepat kilat ia dapat akal. Gafan segera menuju pintu gerbang. Didekatinya polisi itu.
“Ada apa pak, rame-rame?” tanya Gafan pura-pura ramah.
“Itu.. pemuda tadi mau larikan diri kemari,” jawab pak polisi. “Saudara kerja di sini, ya?” lanjutnya bertanya.
“B-bukan, pak. Saya nunggu teman. Tadi janjian mau jemput saya di sini,” jawab Gafan berbohong.
“Emangnya saudara mau kemana?”
“Ng.. mau ke Bank…. ng.. mau setor uang ke BCA,” jawab Gafan berbohong lagi. Kali ini niatnya mau gagah-gagahan di depan polisi tersebut.
Pak polisi sendiri hanya memandang Gafan sejenak, setelah itu ia pun tetap berdiri di situ. Rupanya ia berdiri di pintu gerbang itu untuk berjaga-jaga siapa tahu ada pengendara yang coba-coba menghindari razia dan masuk ke kantor itu.
Sementara itu waktu terus berlalu menit demi menit, jam demi jam. Tak terasa sudah tiga jam berlalu. Saat itu hampir pukul 11, jam pulang untuk hari Jumat. Sejumlah karyawan kantor pupuk tersebut terlihat mulai pulang. Satu persatu mereka keluar dengan menggunakan sepeda motornya. Sebagiannya lagi jalan kaki. Gafan melongok ke arah tempat parkir, ternyata di situ tinggal motornya saja yang masih tersisa. Waduh, bisa berabe nih, kata Gafan dalam hati.
“Pak, biasanya kalo razia sampe jam berapa selesai?” tanya Gafan kepada polisi sambil melihat-lihat razia yang belum juga kelar.
“Tergantung…. tergantung kapan mau diselesai’in,” jawab pak polisi sekenanya sambil menoleh ke arah tempat parkir dan melihat masih tersisa sebuah sepeda motor di sana.
Gafan langsung berdebar melihat polisi itu menoleh ke tempat parkir. Kontan saja ia pura-pura menggerutu. “Waduh, lama sekali sih, teman saya ngejemput,” ujar Gafan ngedumel agak keras supaya terdengar pak polisi. Maksudnya untuk meyakinkan polisi bahwa ia memang lagi nunggu jemputan dan bukannya nungguin motor yang lagi parkir itu.
Pak polisi melirik ke arah Gafan. Tak tahulah apa arti lirikannya. Yang jelas Gafan merasa kemungkinan siasatnya meyakinkan polisi itu berhasil. Tak lama kemudian polisi itu balik bertanya: “Kamu mau setor uang ke Bank, ya?”
“Ya, pak. Ndak banyak, kok. Cuma lima belas juta saja,” ujarnya berbohong untuk sekedar gaya-gayaan.
Polisi tersebut terdiam dan tetap mematung memandangi orang yang lalu lalang. Jam saat itu sudah menunjukkan hampir pukul setengah dua belas. Razia nampaknya sudah selesai. Ini terlihat dari mulai lancarnya arus kendaraan. Sedangkan polisi yang di dekat Gafan mulai melangkah pula hendak meninggalkan gerbang kantor itu. Gafan jadi agak lega.
Namun apa yang terjadi, tiba-tiba polisi itu kembali ke arah Gafan. “Ayo, saya antar saudara ke Bank. Mungkin teman saudara batal jemput,” ujarnya.
“Waduh pak, terima kasih banyak, ndak usah repot-repot. Sebentar lagi juga dia datang,” jawab Gafan berkilah.
“Ayo, ndak apa-apa. Ntar kalau sudah setor uang ke Bank saya antar lagi kemari. Di sini kurang aman, banyak jambret akhir-akhir ini,” kata pak polisi setengah memaksa.
“Ndak apa-apa, kok, saya bisa jaga diri,” ujar Gafan mulai khawatir.
“Ayoo.., ndak usah sungkan. Saya ndak enak hati biarkan saudara di sini sendirian bawa uang banyak,” jawab pak polisi sembari melingkarkan tangannya ke lengan Gafan lalu menggiringnya ke arah motor RGR-nya.
Gafan kembali berusaha menolak. Tapi tangan kanan pak polisi yang sudah melingkar di lengan Gafan terasa begitu kuat. Gafan akhirnya pasrah. “Ayo naik,” suruh pak polisi. “Nih pake helmnya, dan pastikan bunyi ‘klik’, ya,” lanjutnya lagi.
Gafan pun terpaksa menuruti. Ia naik di boncengan motor pak polisi. Setelah itu helm ia pasang sesuai instruksi, termasuk colokan helm yang harus berbunyi klik. “Kok bunyinya kluk, bukan klik?” tanya Gafan sedikit bergurau meski agak kesal.
“Ndak apa-apa. Klik dan kluk sama saja. Yang penting bunyinya bukan prook.”
“Prook itu bunyi apaan?”
“Itu bunyi helm hancur kegencet truck.”
“Kalau bunyinya.. prook… prook… prook…, kira-kira bunyi apaan, pak?”
“Bunyi helm kegencet truk tiga kali,” jawab pak Polisi sekenanya.
“Salah pak. Prook.. prook… prook.. itu bunyi sepatu seorang kapiten… hehehe,” jawab Gafan sambil cengengesan.
Mendengar jawaban tersebut pak Polisi bukannya ikut tertawa. Malah kini wajahnya menjadi lebih serius. Dengan wajah dingin, ditatapnya Gafan dalam-dalam. Karena badannya lebih tinggi, wajah pak polisi ditukikkan sedikit ke bawah. Tulang rahang yang semula terangkat naik, kini mulai turun pertanda ia sedang nyebeng.
“Saya ini polisi, tau! Tugas saya melindungi dan mengayomi, bukannya maen teka-teki, ngerti!! Ayo, pegangan yang kuat!” ujar pak polisi sembari menstarter motornya dan… langsung melejit.
Mendengar teka-tekinya tidak mendapat sambutan sebagaimana mestinya, Gafan hanya bisa garuk-garuk kepala. Namun karena saat itu ia sedang pakai helm, maka helm itulah yang digaruk-garuknya.
Gafan sendiri saat itu berusaha mencari akal agar bisa turun dari motor tersebut. Otaknya diputar terus. Dalam benaknya terbayang bagaimana jadinya nanti kalau sampai di Bank. Waduh, Gafan benar-benar puyeng akibat ulahnya sendiri. Gafan terus putar otak. Malah kini kepalanya juga ikutan diputar-putar sampai-sampai helmnya beradu dengan helm pak polisi.
Namun belum sempat lama-lama putar otak, tiba-tiba ia dikejutkan suara peluit polisi yang memboncengnya.
Rupanya pak polisi melihat seorang pengendara dengan motor pretelan. Kontan saja motor itu dikejarnya dengan kecepatan tinggi. Tak terkira takutnya Gafan dibonceng dengan kecepatan gila seperti itu.
“Waduh pak, pelan-pelan, saya takut nih,” pinta Gafan dengan gemetar sembari memeluk erat perut pak polisi.
“Kalau pelan mana bisa terkejar. Mungkin itu motor curian. Saudara tenang saja!,” jawabnya sambil terus memacu motornya dengan sangat cepat di antara keramaian lalu lintas.
“S-saya t-turun di sini saja, p-pak,” ucap Gafan gemeteran. Namun sayang ucapan Gafan tidak terdengar karena kalah keras oleh suara knalpot motor pak polisi. Gafan akhirnya hanya bisa pasrah.
Di tengah suasana kejar mengejar itu beberapa kali Gafan harus spot jantung. Pasalnya, beberapa kali motor pak polisi nyaris terserempet cidomo yang belok tiba-tiba. Tidak hanya sampai di situ, pengejaran kadang keluar masuk gang yang ramai anak-anak. Gafan hanya bisa berpegangan pada pinggang pak polisi sambil terus melihat ke depan dengan tegang. Mulutnya terus komat-kamit membaca doa yang pernah diajarkan kakeknya. Gafan tidak bisa membayangkan kapan adegan ini akan berakhir.
Namun tiba-tiba saja pak polisi menginjak rem dan memelankan motornya seketika. Padahal di tempat itu tidak ada orang. Selidik punya selidik ternyata jalan di depan ada gundukan. Dari jauh nampak sekitar empat gundukan melintang di tengah jalan dengan jarak masing-masing sekitar lima meter.
“Hati-hati, pak, di sini banyak polisi tidur,” kata Gafan mengingatkan.
“Itu bukan polisi tidur. Itu namanya gundukan, tau!! Polisi itu tidurnya di kasur, bukan di tengah jalan, ngerti?” jawab pak polisi agak jengkel. “Kamu mahasiswa, ya? Suka demo, ya?” lanjut pak Polisi.
“Ng.. iya pak,” jawab Gafan berbohong.
“Pantas saja kamu goblok. Berapa IP-mu?”
“Saya belum lihat, pak.”
“Alaaah…. paling-paling IP-mu cuma empat.”
Gafan jadi geli sendiri mendengar pak polisi yang mengira IP itu sama dengan nilai rapor di SMA. Padahal IP empat itu ‘kan IP-nya pak Habibie. Dasar polisi ngantuk, ucap Gafan dalam hati.
Dan tiba-tiba saja Gafan saat itu dapat akal. Saat pak “polisi ngantuk” akan melewati “polisi tidur”, kontan saja Gafan menjatuhkan helmnya. Prak, suaranya cukup keras. Pak polisi kaget dan menoleh kebelakang. Begitu melihat helm yang dipake Gafan jatuh, ia langsung menghentikan motornya. Gafan pun langsung turun mengambil helm itu.
“Nih, pak, helmnya. Saya turun di sini saja. Saya ndak berani ikut kebut-kebutan,” kata Gafan sambil mengembalikan helm pak polisi.
Pak polisi sendiri melongo sesaat, namun kemudian ia langsung tancap gas lagi mengejar motor pretelan tersebut.
Tak terkira lega hati Gafan bisa lepas dari bahaya. Dengan segera ia melangkah kembali ke kantor pupuk tempat menitip motornya. Jaraknya kira-kira dua kilometer. Dan kali ini ia harus rela jalan kaki karena tidak bawa uang sepeserpun. “Ndak apa-apa. Yang penting ndak berurusan dengan polisi. Semoga ini akhir dari kesialanku,” ucapnya dalam hati.
Tapi memang, kalau lagi sial, ya, tetap sial. Begitu sampai di kantor itu, ternyata pintu gerbang kantor sudah ditutup plus digembok dengan gembok sebesar bogem. Tampak di belakang kantor, di tempat parkir, motor Gafan dan jaketnya berdiri tenang menyendiri.
“Pak, mana nih penjaga kantornya?” tanya Gafan dengan nada khawatir pada seorang lelaki pedagang kaki lima yang ada di situ.
“Wah, barusan saja pergi shalat Jumat ke masjid,” jawab lelaki itu. “Dan biasanya setelah shalat jumat dia pulang dulu istirahat, dan….. balik kesini sekitar jam empat sore,” lanjutnya yang membuat Gafan lemas seketika. Waduh, nasib… nasib….##



Read More......